BERAU TERKINI – Liburan tak selamanya menghilangkan stress, Founder Integra Well-Being Center Berau Gardhika Rizky Sudarsono jelaskan penyebabnya.

Liburan sering dianggap sebagai solusi jitu untuk mengatasi stres dan kelelahan mental. Banyak orang yang berharap bahwa dengan pergi ke pantai, mendaki gunung, atau sekadar staycation di hotel mewah, perasaan jenuh, lelah, dan stres akan menghilang begitu saja.

Istilah healing bahkan menjadi tren yang identik dengan kegiatan liburan, seolah-olah semua masalah akan terselesaikan dengan jalan-jalan.

Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang sudah kembali dari liburan justru merasa tetap lelah, tidak bersemangat, dan bahkan lebih bingung daripada sebelumnya.

Burnout yang mereka alami juga tak kunjung reda, meskipun waktu, tenaga, dan uang sudah dihabiskan untuk mengisi ulang energi, lantas apa yang sebenarnya terjadi?

Menurut Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi., Psikolog menerangkan bahwa burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental yang disebabkan oleh stres berkepanjangan di tempat kerja.

Berikut beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi menurut pandangan Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi.:

Liburan Tidak Mengatasi Akar Masalah Burnout

Gardhika mengatakan bahwa kondisi burnout sering kali berkaitan dengan beban kerja yang berlebihan, konflik di tempat kerja, kurangnya dukungan, atau tidak adanya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional.

“Jika faktor-faktor penyebab ini tidak berubah, maka liburan hanya bersifat sementara. Begitu pekerja kembali ke rutinitas dan tekanan yang sama, perasaan burnout pun muncul kembali seolah tidak pernah pergi,” kata Gardhika kepada Berau Terkini, saat ditemui di Integra Well-Being Center Berau beberapa waktu lalu.

Ekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Liburan

Dia menuturkan, sebagian orang berharap bahwa liburan akan menjadi “penyelamat” dari semua stres dan tekanan yang dirasakan. Namun, ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, misalnya karena liburannya terlalu singkat, terlalu padat agenda, atau kurang berkualitas, maka kekecewaan pun akan muncul.

“Liburan yang terlalu dikemas padat juga bisa membuat tubuh malah semakin lelah yang padahal tujuan awalnya itu bisa memulihkan rasa burnout. Tapi kalau liburannya santai, sambil meditasi atau journaling perasaan yang sedang dirasakan, itu sangat bagus,” ungkap Ghardika.

Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi (Nadya Zahira/BT)
Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi (Nadya Zahira/BT)

Mental Belum Benar-Benar Beristirahat

Tak hanya itu, ia menilai bahwa benerapa orang tetap membawa beban pekerjaan saat liburan, baik secara fisik, misalnya tetap membalas email atau chat kantor, dan secara mental yaitu dengan selalu memikirkan pekerjaan yang menumpuk.

Akibatnya, otak malah tidak benar-benar beristirahat. Dalam kondisi seperti ini, ia menilai liburan tidak mampu memberikan pemulihan emosional yang dibutuhkan.

Kecemasan Akan Kembali ke Rutinitas

Gardhika mengatakan, liburan yang panjang justru dapat memicu kecemasan baru, terutama menjelang hari terakhir libur. Lebih tepatnya, perasaan cemas terhadap tumpukan pekerjaan yang menanti.

“Tekanan dari atasan, atau dinamika kantor yang tidak menyenangkan bisa membuat seseorang tidak menikmati masa liburnya secara penuh. Bahkan, istilah post-vacation blues atau kesedihan setelah liburan cukup umum terjadi,” kata dia.

Kondisi Kesehatan Mental yang Tidak Disadari

Burnout bisa menjadi gejala dari kondisi mental yang lebih serius, seperti depresi atau gangguan kecemasan. Dalam kasus seperti ini, liburan tidak cukup sebagai bentuk terapi.

Untuk itu, Gardhika bilang, orang tersebut mungkin membutuhkan pendekatan yang lebih mendalam seperti konseling, psikoterapi, atau perubahan besar dalam gaya hidup dan lingkungan kerja.

Tidak Ada Perubahan Pola Hidup Setelah Liburan

Gardhika menuturkan bahwa banyak sebagian pekerja, setelah kembali dari liburan, mereka langsung kembali ke pola kerja lama yang melelahkan. Misalnya, lembur terus-menerus, tidak punya waktu istirahat, dan minim aktivitas personal yang menyenangkan.

“Jadi kalau tidak ada perubahan nyata setelah liburan, maka burnout hanya akan menjadi siklus berulang. Untuk itu, sebaiknya langsung mencari psikolog agar mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi dan mencari akar permasalahan yang sedang dialami,” imbuhnya.

Dengan demikian, Gardhika menyampaikan bahwa liburan bisa menyegarkan, tapi tidak selalu menyembuhkan. Burnout adalah sinyal tubuh dan jiwa bahwa ada sesuatu yang perlu diubah secara mendasar, bukan hanya ditenangkan sementara.

Maka dari itu, ia bilang, pemulihan dari burnout membutuhkan waktu, kesadaran diri, perubahan pola hidup, dan seringkali, dukungan profesional.

“Jadi, jika kamu merasa tetap burnout meski sudah liburan, itu bukan tanda kamu lemah atau kurang bersyukur, tapi itu adalah sinyal bahwa kamu butuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar jalan-jalan. Kamu butuh perawatan, bukan pelarian,” tandasnya.(*)