BERAU TERKINI – Berikut ini strategi yang akan digunakan Disbudpar Berau untuk menggenjot ekonomi kreatif atau ekraf di tahun 2026.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mengarahkan strategi pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) tahun ini pada sub sektor yang dinilai mampu memberi dampak ekonomi cepat dan luas, yakni kuliner dan seni pertunjukan.

Langkah tersebut ditempuh sebagai bagian dari strategi pemilihan program prioritas agar intervensi pemerintah benar-benar menyentuh pelaku usaha dan masyarakat, meski di tengah penyesuaian kebijakan efisiensi anggaran.

Kepala Bidang Bina Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Berau, Nurjatiah, mengatakan sub sektor kuliner menjadi fokus utama karena memiliki jumlah pelaku usaha terbesar serta keterkaitan langsung dengan sektor pariwisata.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas saat melihat stand kuliner khas Berau belum lama ini. Foto: Dokumen.

“Kuliner adalah sub sektor unggulan talenta daerah Berau dan dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat. Karena itu, kami fokuskan pelatihan dan sertifikasi di sub sektor ini,” ujarnya.

Salah satu program yang dijalankan adalah pelatihan dan sertifikasi barista kopi, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan, profesionalisme pelaku usaha, serta daya saing kuliner lokal di daerah tujuan wisata.

Menurutnya, wisatawan yang datang ke Berau tidak hanya mencari panorama alam, tetapi juga pengalaman rasa yang aman, berkualitas, dan berciri khas lokal.

Karena itu, pelatihan kuliner juga menitikberatkan pada standar keamanan pangan, higienitas, sanitasi, hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

“Standar mutu ini penting untuk melindungi konsumen dan membangun kepercayaan pasar, terutama di kawasan pariwisata,” jelasnya.

Proses blending biji kopi campuran Arabica dan Robusta di Ada Kopi (Nadya Zahira/BT)
Proses penggilingan biji kopi campuran Arabica dan Robusta di Ada Kopi (Nadya Zahira/BT)

Tak hanya kuliner, Disbudpar Berau juga mendorong seni pertunjukan teater sebagai sub sektor strategis karena dinilai mampu menggerakkan banyak cabang ekonomi kreatif dalam satu ekosistem.

Dalam satu pementasan teater, kata Nurjatiah, berbagai sub sektor terlibat sekaligus, mulai dari seni peran, musik, tari, sastra, tata rias dan busana, desain panggung, hingga kriya dan wastra.

“Teater itu satu kegiatan bisa menghidupkan banyak pelaku ekraf sekaligus, sehingga dampaknya lebih luas,” bebernya.

Selain bernilai ekonomi, teater juga dipandang efektif sebagai media penguatan identitas lokal. Cerita rakyat, sejarah daerah, adat, hingga isu sosial dan lingkungan dapat diangkat secara kreatif dan mudah diterima masyarakat.(*)