BERAU TERKINI Keberadaan SPPG Gunung Panjang juga berdampak pada ekonomi lokal di Berau.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Panjang memperkerjakan relawan yang berasal dari masyarakat lokal Berau. Selain itu semua bahan baku yang diolah untuk menjadi menu Makan Bergizi Gratis atau MBG juga berasal dari petani di Berau.

Kepala SPPG Gunung Panjang, Juanda Sitanggang menerangkan semua relawan berasal dari masyarakat lokal Berau. Penggajian mereka pun diambil dari dana operasional sebesar Rp 3.000 yang termasuk dalam setiap porsi anggaran MBG.

“Kami berdayakan masyarakat lokal. Ini penting agar mereka juga punya rasa memiliki terhadap program ini sekaligus mengurangi jumlah pengangguran di Berau,” kata Juanda saat dihubungi, Jumat (19/9/2025).

Tak hanya itu, untuk memastikan program ini memberikan dampak positif pada sektor pertanian lokal, Juanda mengatakan bahwa SPPG Gunung Panjang hanya membeli bahan baku dari petani di wilayah Berau.

Ia menyebutkan, mulai dari beras, sayuran, telur, hingga daging ayam, semua dipasok oleh petani lokal. Kebijakan ini sesuai dengan arahan Pemkab Berau, yang mendorong agar seluruh kebutuhan MBG mengutamakan produk hasil tani dan ternak masyarakat setempat.

“Dengan ini, kita tidak hanya memberi makan anak-anak, tapi juga mendorong roda ekonomi petani lokal. Tapi lagi-lagi, harganya tetap tinggi. Itulah kenapa kami minta agar alokasi dana per porsi bisa dinaikkan,” imbuhnya.

Aktivitas menyiapkan menu MBG di SPPG Gunung Panjang
Aktivitas menyiapkan menu MBG di SPPG Gunung Panjang, Berau (Nadya Zahira/BT)

Namun Juanda menyampaikan sejumlah tantangan dalam pengelolaan SPPG Gunung Panjang, salah satunya mengenai anggaran per porsi.

Pihaknya berharap, Badan Gizi Nasional (BGN) dapat segera menaikkan anggaran biaya per porsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Berau dari Rp 15.000 menjadi Rp 20.000.

Kenaikan ini dinilai sangat penting agar kualitas dan keberlanjutan program tetap terjaga, terlebih dengan tingginya harga bahan baku di wilayah Berau, Kalimantan Timur.

Dia menjelaskan bahwa dari anggaran Rp 15.000 per porsi MBG yang saat ini berjalan, hanya sekitar Rp 10.000 yang benar-benar dapat dialokasikan untuk membeli bahan baku masakan.

Sisanya, ia bilang, sebesar Rp 3.000, digunakan untuk kebutuhan operasional seperti gaji relawan, bahan bakar kendaraan pengantar MBG ke sekolah-sekolah, hingga kebutuhan air dan listrik di dapur produksi. Sementara Rp 2.000 lainnya disisihkan sebagai kontribusi untuk mitra dengan yayasan.

“Kami harus pintar-pintar mengatur. Tiap hari saya, tim akuntan, dan ahli gizi kami benar-benar memutar otak agar dana Rp 15.000 ini bisa cukup untuk memberikan makanan yang sehat dan bergizi untuk anak-anak,” ujar Juanda.

Juanda menegaskan bahwa pihaknya telah sejak lama mengajukan kenaikan indeks kemahalan wilayah ke BGN pusat di Jakarta. Pengajuan tersebut dilakukan bahkan jauh sebelum SPPG Gunung Panjang resmi dibentuk. Namun hingga saat ini, belum ada titik terang dari pemerintah pusat terkait realisasi usulan tersebut.

“Sejak sebelum SPPG ini berdiri, kami sudah mengajukan indeks kemahalan untuk wilayah Berau. Harga bahan baku di sini tidak bisa disamakan dengan harga di Jawa. Tapi sampai sekarang belum ada keputusan dari pusat. Memang sedih sekali Berau ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dia menilai, anggaran tiap per porsi MBG yang saat ini hanya mencapai Rp 15.000 itu sudah sangat minimal. Sehingga dia berharap, anggaran ini bisa segera naik jadi Rp 20.000 dan nominal ini sudah termasuk untuk biaya operasional. “Kalau anggarannya naik kan kualitas gizi yang kami berikan juga pasti akan jauh lebih baik,” katanya. (*)