BERAU TERKINI – Angka pengangguran di Kabupaten Berau masih menjadi rapor merah yang sulit dituntaskan.
Namun, sebuah fakta ironis terungkap dari catatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau.
Sektor perkebunan kelapa sawit yang sebenarnya membuka lebar pintu lowongan kerja, namun justru sepi peminat dari putra daerah sendiri.
Kecenderungan tenaga kerja lokal yang hanya terpaku pada sektor pertambangan dinilai menjadi penghambat utama penyerapan tenaga kerja di sektor lain.

Padahal, persaingan masuk ke perusahaan tambang kian kompetitif dan menuntut kualifikasi tinggi, yang seringkali memicu gesekan dalam proses rekrutmen.
Akibat minimnya minat warga lokal, industri kelapa sawit di Bumi Batiwakkal kini lebih banyak menghidupi tenaga kerja dari luar daerah, seperti Nusa Tenggara dan Sulawesi.
Peluang ekonomi yang ada di depan mata seolah terlewat begitu saja oleh pemuda setempat.
Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, menyayangkan sikap pilih-pilih pekerjaan ini.
Ia mengingatkan, keberadaan industri sawit seharusnya menjadi solusi cepat untuk menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Berau yang masih tergolong tinggi.
“Saat sektor sawit butuh tenaga kerja, malah sedikit orang lokal kita yang mau melamar. Catatan Disnaker tahun lalu, ada sekitar 500 tenaga kerja yang dibutuhkan di sawit, tapi kurang diminati oleh warga lokal kita,” ungkap Subroto, Kamis (2/4/2026).
Subroto menambahkan, obsesi berlebihan pada sektor pertambangan sering kali berujung pada kekecewaan.
Proses rekrutmen tambang yang sangat ketat dan spesifik sering kali tidak mampu mengakomodasi seluruh pencari kerja lokal, sehingga memicu ketegangan sosial.
“Kita dengar banyak problem perekrutan justru dari sektor pertambangan karena kualifikasi yang tidak sesuai. Sementara di sisi lain, lowongan sawit terbuka lebar tapi diabaikan,” lanjutnya.
Subroto pun meminta putra-putri daerah untuk lebih realistis dan tidak terlalu memilah-milih jenis pekerjaan selama kesempatan tersebut tersedia dan mampu memberikan penghidupan yang layak.
DPRD Berau juga mendorong Disnakertrans untuk terus menyosialisasikan potensi karir di sektor perkebunan agar tidak lagi dipandang sebagai sektor “kelas dua”.
Kemandirian ekonomi daerah dinilai mustahil tercapai jika warga lokal hanya bergantung pada satu sektor ekstraktif.
Diversifikasi minat kerja menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga di masa depan.
“Jangan pilah-pilih kalau ada lowongan. Di saat mencari kerja itu sulit, setiap peluang yang ada harus dimanfaatkan sebaik mungkin demi kesejahteraan keluarga dan daerah,” pungkas Subroto. (*/Adv)

