BERAU TERKINI — Suasana SMA Negeri 5 Gunung Tabur pada Senin (17/11/2025) diselimuti kemeriahan dan warna-warni kearifan lokal dalam perhelatan akbar Bulan Bahasa.
Bukan sekadar perayaan kata, acara ini menjadi panggung pelestarian budaya.
Seluruh siswa, mulai dari kelas X hingga XII, tampil memukau mengenakan batik lokal yang kaya makna.
Uniknya, setiap kelas mengenakan seragam batik yang sama, sebuah simbol soliditas dan komitmen kolektif untuk melestarikan warisan leluhur.
Sejatinya, Bulan Bahasa rutin digelar pada bulan Oktober bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.
Namun, tahun ini acara harus dimundurkan karena berbenturan dengan agenda Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas XII yang sedang berjuang menembus jalur kuliah prestasi.
Kepala SMA Negeri 5 Gunung Tabur, Suwito Wahyu Widodo, menegaskan, penundaan ini sama sekali tidak melunturkan semangat pelestarian budaya.
“Tapi itu tidak menghilangkan semangat kita untuk melestarikan budaya,” ujar Suwito saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara.
Bagi sekolah penerima predikat Adiwiyata Lingkungan ini, Bulan Bahasa adalah event krusial.
Ini adalah momentum untuk mengokohkan semangat membudayakan kearifan lokal dalam interaksi sosial, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Komitmen sekolah terhadap budaya tampak jelas sejak seremoni pembukaan.
Master of Ceremony (MC) memandu acara menggunakan tiga bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan yang paling istimewa, Budaya Banua Bahasa Berau.
“Ini untuk menjaga eksistensi budaya kita,” tegas Suwito.
Upaya melestarikan budaya Berau juga diimplementasikan melalui kurikulum, dengan memasukkan pelajaran budaya dalam mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok).
“Ini bagian dari usaha kita menjaga budaya warisan nenek moyang,” tambahnya.
Dalam gelaran tahun ini, pihak sekolah menyelenggarakan setidaknya 18 jenis lomba yang merangkul aspek akademik dan non-akademik siswa.
Dia merinci lomba-lomba tersebut yakni Baca Puisi, Cipta Puisi, Menulis Cerpen, Jurnalistik, Desain Poster, Komik Digital, Kriya, Fotografi, Batik Kelas, Cipta Lagu, Akustik, Menyanyi Solo, Monolog, Tari Kreasi, Memasak, Kebersihan Kelas, dan Pojok Baca.
Event akbar ini dijadwalkan berlangsung selama sepekan penuh dan akan ditutup pada 21 November 2025.
“Semua harus berpartisipasi dalam agenda ini, mari kita lestarikan budaya literasi di sekolah,” seru Suwito.
Menurut Suwito, perlombaan ini dirancang sebagai upaya nyata sekolah untuk meningkatkan kemampuan akademik dan non-akademik murid.
“Dengan naik ke panggung dan tampil di depan para penonton, diharapkan dapat menempa mental para murid agar mampu berkomunikasi dengan baik di lingkungan sosial,” harapnya.
Senada dengan kepala sekolah, Ketua Panitia Bulan Bahasa, Misbahul Jannah, menyampaikan visi besar acara ini, yakni menyalurkan bakat unik yang dimiliki oleh setiap murid.
Ia berharap, penampilan di atas panggung dapat mendorong kreativitas dan inovasi, menjadikan mereka aset kebanggaan bagi sekolah, masyarakat, dan negara.
“Selamat bertanding untuk semua anak murid ibu, jadi yang terbaik,” tutup Misbahul Jannah penuh semangat. (*)
