BERAU TERKINI – Menjelang Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperketat pengawasan terhadap tiga aspek utama pengendalian pangan: ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga, khususnya di Kabupaten Berau.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyampaikan komitmen tersebut saat melakukan kunjungan kerja di Berau, Selasa (17/2/2026). 

Dalam pemantauan di sejumlah toko beras, tim menemukan adanya selisih harga jual di lapangan yang telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Temuan tersebut akan segera ditindaklanjuti dengan penelusuran menyeluruh untuk membedah rantai pasok, mulai dari tingkat pedagang, distributor, agen, hingga ke hulu atau penggilingan.

“Menjelang puasa dan Lebaran, kami memastikan ketersediaan barang cukup, distribusi merata, dan harga stabil di setiap daerah. Temuan dalam dua hari terakhir menjadi bahan evaluasi untuk kami telusuri lebih lanjut,” ujar Maino.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono. (Diva/BT)
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono. (Diva/BT)

Pemerintah berkomitmen untuk meninjau rantai pasok secara komprehensif, mengingat faktor harga gabah di tingkat petani juga memberikan pengaruh besar terhadap harga beras di pasaran. 

Maino menjelaskan, HET merupakan batas harga tertinggi yang ditetapkan bagi konsumen dengan mempertimbangkan biaya produksi serta distribusi secara proporsional.

Meski demikian, ia mengakui dinamika harga bahan baku di hulu tetap menjadi variabel penting dalam pembentukan harga akhir.

“Untuk harga beras sejatinya telah diatur ke dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 299 Tahun 2025 tentang Harga Eceran Tertinggi (HET), khusus untuk jenis premium dan medium,” jelasnya.

Tantangan di Kabupaten Berau tergolong unik, mengingat sekitar 80 persen kebutuhan beras masyarakat masih didatangkan dari luar daerah. 

Ketergantungan ini memicu harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan daerah produsen akibat beban biaya transportasi yang signifikan. 

“Kalimantan sendiri masuk zona dua dalam pembagian wilayah harga beras nasional,” terang Maino.

Dia juga mengimbau seluruh pelaku usaha pangan, baik petani, peternak, distributor, maupun pedagang, untuk bekerja sama menjaga stabilitas harga selama momentum hari besar keagamaan.

Pengawasan ketat melalui Satgas Pangan pun akan terus ditingkatkan guna memastikan distribusi tetap lancar tanpa ada hambatan pasokan.

“Pengawasan melalui Satgas Pangan akan terus dilakukan guna memastikan distribusi berjalan lancar dan pasokan tetap aman,” pungkasnya. (*)