BERAU TERKINI – Ketua DPRD Berau, Dedi Okto Nooryanto, melaksanakan agenda Reses Masa Sidang I Tahun 2026 di Jalan Gunung Panjang, Gang Telaga, Kecamatan Tanjung Redeb, Kamis (12/2/2026) malam.
Pertemuan yang dihadiri oleh puluhan konstituen tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, di mana warga secara terbuka menyuarakan berbagai keluhan mendesak, mulai dari infrastruktur hingga isu lapangan kerja.
Dalam diskusi tersebut, persoalan lampu penerangan jalan umum (PJU) dan perbaikan drainase menjadi keluhan yang paling mendominasi.
Warga berharap adanya pemasangan PJU di sepanjang gang serta normalisasi drainase yang kini sudah tidak mampu menampung debit air saat hujan deras, sehingga kerap memicu banjir di permukiman.
Menanggapi hal itu, pria yang akrab disapa Dedet ini berkomitmen untuk memprioritaskan usulan tersebut dalam agenda penganggaran mendatang.
“Di sini memang sudah beberapa kali masuk aspirasi saya. Mudah-mudahan nanti di ABT atau 2027 murni bisa kita bantu. Saya akan perjuangkan supaya masyarakat di sini tidak kebanjiran lagi, sekalian dengan PJU-nya,” jelasnya.

Selain masalah lingkungan, warga juga menyoroti aktivitas pertambangan yang dampaknya kian dirasakan di kawasan dalam kota.
Deded mengungkapkan, DPRD Berau tidak akan tinggal diam dan berencana bertolak ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam waktu dekat untuk membawa persoalan ini ke tingkat nasional.
“Kita insya Allah bulan ini ke kementerian. Harapan saya, orang kementerian bisa turun langsung melihat kondisi di lapangan,” ujarnya.
Ketua NasDem Berau ini mengkritik proses penerbitan izin tambang dari pemerintah pusat yang kerap kali keluar tanpa melihat langsung dampak riil di lapangan.
Ia juga menyinggung luasnya konsesi salah satu perusahaan besar yang mencakup kawasan dalam kota.
Meski tidak semua area ditambang karena padat penduduk, Deded menyatakan ketegasannya melalui revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
“Saya sudah sampaikan ke bagian PU yang menyusun RT-RW, saya tidak mau lagi ada tambang dalam kota,” tegasnya.
Terakhir, isu lapangan kerja bagi putra daerah turut menjadi perhatian serius.
Deded menilai masyarakat lokal seringkali kalah bersaing dengan tenaga kerja luar daerah akibat keterbatasan keahlian spesifik.
Sebagai solusi, ia mendorong penguatan Balai Latihan Kerja (BLK) dengan sistem yang terintegrasi langsung dengan kebutuhan industri perusahaan, mencontoh keberhasilan sistem di Balikpapan.
Deded ingin BLK di Berau benar-benar menjadi kawah candradimuka bagi pemuda lokal melalui pelatihan mesin dan keahlian teknis lainnya.
Langkah ini diharapkan menjadi jembatan agar tenaga kerja lokal memiliki daya tawar tinggi di hadapan perusahaan.
“Supaya bisa langsung diserap perusahaan. Jangan sampai BLK sudah dibuat, tapi masyarakat tetap susah cari kerja,” pungkasnya. (*)

