BERAU TERKINI – Wajah olahraga futsal di Bumi Batiwakkal baru saja mencatatkan standar baru.

Di bawah kendali Muhammad Furqan, turnamen bertajuk MF Futsal Championship berhasil disulap menjadi ajang bergengsi yang memadukan kompetisi dengan industri kreatif dan pemberdayaan UMKM di GOR Pemuda Tanjung Redeb.

Furqan, pria kelahiran 22 Desember 1995 yang telah malang melintang di dunia penyelenggaraan event nasional, mengaku takjub dengan animo masyarakat Berau. 

Baginya, futsal di Berau bukan sekadar olahraga, melainkan magnet massa yang luar biasa. 

Hal ini terbukti dengan kehadiran sekitar 1.500 penonton pada laga final pekan lalu, meski mereka harus merogoh kocek untuk membeli tiket masuk.

“Warga Berau memiliki antusias yang tinggi untuk menikmati tontonan olahraga futsal, tapi sayangnya dulu turnamennya biasa-biasa aja,” ungkap Furqan saat berbincang di sebuah kedai kopi di Berau.

Meski saat ini berdomisili dan berbisnis di Balikpapan, Furqan menganggap Berau adalah Ibu, tempat ia harus kembali untuk berkarya.

Motivasi inilah yang mendorongnya menggelar turnamen akbar tanpa sokongan dana APBD. 

Seluruh pembiayaan bersumber dari kantong pribadi serta sponsor yang diseleksi secara ketat demi menjaga visi acara.

“Balikpapan itu sudah terlalu sumpek hiburannya, kita di Berau ini butuh juga turnamen yang bagus dan punya kelas,” tuturnya.

Kemandirian ini juga terlihat dari aksi nyata Furqan sebelum acara dimulai. 

Alih-alih mengeluh pada keterbatasan fasilitas, ia menggunakan dana pribadi untuk memperbaiki infrastruktur GOR Pemuda, mulai dari servis blower penghisap udara panas, pembersihan toilet, hingga perbaikan mesin air yang sempat mati. 

“Kita perbaiki pakai duit pribadi, itu bagian kontribusi,” tegas alumni SMP 3 Tanjung Redeb tersebut.

Di balik kemeriahan penampilan artis ibu kota dan keterlibatan komunitas kreatif Berau Futsal Turnamen (BFT), Furqan menyelipkan pesan mendalam. 

Spanduk berukuran 4×3 meter dengan tulisan seperti ‘Gawang Baru! Gedung???’ sengaja dipasang di langit-langit stadion sebagai bentuk kritik terhadap kondisi fasilitas olahraga yang dianggap kurang representatif.

“Kalau disentil gitu, minimal ya sadarlah kan, kita butuh tempat yang representatif,” ucap penggemar Ardiansyah Nur ini.

Ia berharap pemerintah dan penggiat olahraga mulai menyadari futsal kini telah bertransformasi menjadi industri yang menjanjikan, di mana sektor pariwisata hingga relawan muda turut merasakan dampak ekonominya.

MF Futsal Championship tidak hanya soal gengsi, tetapi juga tentang penghargaan terhadap atlet. 

Dengan total hadiah mencapai puluhan juta rupiah, termasuk hadiah Rp25 juta bagi pemenang, turnamen ini mencatatkan sejarah sebagai event pertama di Berau yang memberikan apresiasi hingga juara keempat.

Furqan menekankan, kunci sukses penyelenggaraan event adalah menjaga kepercayaan. 

Baginya, ketika sebuah acara dikelola secara positif dan memiliki visi yang jelas, dukungan akan datang dengan sendirinya. 

Bahkan, ia mengaku sempat menolak beberapa sponsor yang tidak sejalan dengan konsep yang ia usung.

“Sponsor banyak yang kami tolak karena tidak sesuai dengan visi kami untuk menggelar event ini,” sebutnya.

Mengakhiri perbincangan, Furqan berharap langkah ini menjadi awal bagi Berau untuk menjadi kiblat peradaban olahraga yang lebih profesional. 

“Semua event ini kami mulai dari 0. Ternyata bisa dan sukses memberikan hiburan kepada warga Berau,” tutupnya. (*)