BERAU TERKINI – Bupati Berau, Sri Juniarsih, menyoroti kinerja aparatur kampung yang dinilai masih perlu diperkuat, terutama dalam hal profesionalitas dan pemanfaatan potensi daerah.
Ia menegaskan, kepala kampung dan seluruh perangkatnya tidak bisa lagi bekerja biasa-biasa saja.
Tugas yang diemban mencakup pengelolaan pemerintahan, pembangunan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Sehingga dibutuhkan pola pikir yang matang dan kerja yang terukur.
“Jangan sampai kita bekerja tanpa arah. Semua harus profesional, sesuai aturan, dan berdampak langsung ke masyarakat,” tegas Sri Juniarsih saat pelantikan dan pengambilan sumpah penjabat kepala kampung, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, koordinasi menjadi titik lemah yang masih sering terjadi di tingkat kampung.
Ia meminta kepala kampung aktif berkomunikasi dengan kecamatan, OPD teknis, hingga lembaga kampung seperti BPK dan LPM agar tidak terjadi pelanggaran regulasi dalam menjalankan program.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya memastikan seluruh perangkat kampung benar-benar bekerja.
Pelayanan publik harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan.
Sri Juniarsih turut menyinggung soal pengelolaan keuangan kampung yang harus transparan dan akuntabel.
Ia mengingatkan, di tengah kondisi efisiensi anggaran, penggunaan dana kampung harus lebih tepat sasaran dan tidak asal jalan.
“Pengelolaan keuangan harus jelas. Jangan sampai ada masalah di kemudian hari karena tidak sesuai aturan,” ujarnya.
Di sisi lain, ia melihat potensi kampung di Berau, khususnya sektor kakao, belum dimaksimalkan.
Padahal, permintaan pasar internasional terhadap kakao Berau cukup tinggi, bahkan mencapai ratusan ton per tahun.
Namun, hingga kini produksi belum mampu memenuhi permintaan tersebut.
Ia menilai kondisi ini menunjukkan belum optimalnya pengelolaan potensi lokal oleh pemerintah kampung dan masyarakat.
“Permintaan ada, pasarnya jelas, tapi kita belum siap dari sisi produksi. Ini yang harus dikejar,” katanya.
Ia pun mendorong agar kepala kampung tidak hanya fokus pada administrasi, tetapi juga mampu menggerakkan masyarakat untuk mengembangkan sektor unggulan, termasuk pertanian kakao.
Menurutnya, kampung harus mulai berperan sebagai pelaku ekonomi, bukan sekadar penonton.
Seluruh potensi sumber daya manusia yang ada perlu dilibatkan agar dampak ekonomi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kalau tidak dikelola serius, potensi hanya akan jadi cerita. Kampung harus jadi motor penggerak ekonomi,” tandasnya. (*)

