BERAU TERKINI – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Syarifatul Syadiah, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kondisi pendidikan di pelosok Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau. Dalam kegiatan serap aspirasi terbarunya, ia menemukan fakta miris bahwa siswa sekolah dasar terpaksa belajar di ruang kelas yang jauh dari standar kelayakan.
Kondisi tersebut ia potret langsung saat meninjau lapangan. Syarifatul melihat satu ruangan kelas harus digunakan secara bersamaan oleh siswa kelas 1 dan kelas 2 dengan hanya didampingi oleh satu orang guru saja.
Siswa Terancam Tak Punya Tempat Belajar
Masalah utama yang menghimpit proses belajar-mengajar di wilayah ini adalah ketiadaan gedung permanen. Selama ini, aktivitas sekolah hanya menumpang di sebuah rumah milik warga. Ironisnya, masa depan pendidikan anak-anak di sana kini terancam karena pemilik rumah akan segera mengambil kembali propertinya.
“Kondisi kelasnya sangat memprihatinkan. Guru dan masyarakat sangat mendambakan pembangunan sekolah yang layak agar tidak lagi menumpang. Informasi terakhir, pemilik rumah pinjaman tersebut akan segera memakai kembali rumahnya untuk keperluan pribadi,” ujar Syarifatul Syadiah, Rabu (18/2/2026).

Himpitan Krisis Listrik dan Air Bersih
Penderitaan warga di wilayah tersebut tidak berhenti pada masalah pendidikan. Syarifatul mencatat keluhan warga terkait absennya tiga fasilitas vital: jaringan listrik, akses air bersih, hingga jaringan telekomunikasi.
Menyikapi hal ini, legislator dari Partai Golkar tersebut mulai membangun komunikasi intensif dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Berau. Mengingat kewenangan SD dan SMP berada di tingkat kabupaten, ia mendesak pemerintah daerah segera membangun sekolah filial atau kelas jauh.
“Kami mendorong pembangunan sekolah filial di sana. Pak Wakil Bupati dan Ibu Kadis Pendidikan sudah meninjau lokasi. Kabar baiknya, lahan milik Pemda sudah tersedia, sehingga kami berharap pembangunan bisa terealisasi pada tahun 2027,” tambahnya.
Langkah Taktis Penarikan Jaringan Listrik
Terkait kebutuhan energi, Syarifatul telah menghubungi Manager PLN untuk mencari solusi. Namun, karena populasi penduduk yang tidak terlalu besar, ia akan menempuh skema kolaborasi anggaran melalui Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Langkah strategis yang akan ia kawal adalah mendorong Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltim untuk melakukan pengadaan tiang listrik.
“Kewenangan saya di provinsi akan saya gunakan untuk mendorong anggaran dari ESDM Kaltim guna pengadaan tiang listriknya terlebih dahulu. Jika tiang sudah berdiri, barulah PLN mengalirkan listriknya. Saat ini, Pak Camat Gunung Tabur sudah menyerahkan proposal resmi untuk jaringan listrik tersebut,” pungkas Syarifatul. (*)
