BERAU TERKINI – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau merilis data terbaru mengenai ketersediaan akomodasi di tiga kecamatan pesisir yang menjadi magnet utama wisatawan. 

Meskipun secara angka jumlah penginapan terlihat cukup banyak, kenyataan di lapangan menunjukkan kapasitas tersebut masih sering kewalahan menghadapi serbuan pengunjung, terutama saat musim libur panjang. 

Pemetaan data ini menjadi sangat krusial sebagai dasar evaluasi agar insiden wisatawan yang terlantar akibat kehabisan kamar tidak terulang kembali.

Berdasarkan data statistik sektor pariwisata, Kecamatan Bidukbiduk saat ini memiliki kekuatan akomodasi sebanyak 78 unit yang terdiri dari 51 homestay dengan 131 kamar, 22 penginapan dengan 239 kamar, serta 5 resort dengan 110 kamar, sehingga total tersedia 480 kamar. 

Sementara itu, Kecamatan Maratua tercatat memiliki koleksi akomodasi paling banyak yakni 95 unit yang meliputi 56 homestay, 16 penginapan, dan 23 resort dengan total kapasitas 458 kamar. 

Di sisi lain, Kecamatan Pulau Derawan memimpin dalam jumlah kapasitas tidur dengan total 640 kamar yang tersebar di 29 homestay, 38 penginapan, dan 5 resort.

Meski total ribuan kamar tersedia di sepanjang pesisir, lonjakan wisatawan belakangan ini membuktikan bahwa pertumbuhan fasilitas belum sebanding dengan antusiasme pengunjung. 

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama Disbudpar Berau, Ing Ta Wijaya, mengakui, jumlah akomodasi saat ini masih terbilang kurang untuk mengimbangi arus wisatawan yang datang secara bersamaan. 

Namun, ia menekankan, menambah kapasitas penginapan bukan perkara mudah yang bisa dilakukan secara instan.

Mengubah rumah warga menjadi penginapan dadakan atau sementara di saat darurat dinilai bukan solusi jangka panjang yang ideal. 

Hal ini dikarenakan setiap unit akomodasi wajib memenuhi standar pelayanan dan kenyamanan tertentu sebelum bisa dipasarkan kepada publik. 

“Karena untuk membuka sebuah akomodasi tentunya harus diperlukan beberapa fasilitas dasar dan amenitasnya,” kata Ing Ta Wijaya saat dikonfirmasi, Jumat (27/3/2026). 

Tanpa fasilitas dasar yang memadai, citra pariwisata daerah justru dikhawatirkan akan merosot di mata pengunjung.

Melihat kesenjangan antara pasokan kamar dan permintaan wisatawan, Disbudpar memandang situasi ini sebagai peluang bisnis yang menjanjikan bagi sektor swasta. 

Para investor diharapkan dapat melirik potensi besar di wilayah pesisir Berau untuk menanamkan modal dalam pembangunan penginapan baru yang representatif. 

Kehadiran investasi baru tidak hanya akan menyelesaikan masalah kekurangan kamar, tetapi juga mendorong persaingan sehat dalam meningkatkan standar fasilitas pariwisata di Bumi Batiwakkal.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga berkomitmen untuk membenahi sisi internal melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. 

Penambahan fisik bangunan harus diiringi dengan kemampuan pengelolaan yang profesional agar wisatawan merasa betah dan ingin kembali berkunjung. 

“Bagi dinas pun ini menjadi catatan kami untuk dapat segera melakukan pelatihan-pelatihan terkait, semisal pelatihan hospitality atau housekeeping,” pungkasnya. (*)