BERAU TERKINI – Dugaan pelecehan rasis yang diterima Vinicius Junior oleh Gianluca Prestianni, menambah catatan ke 20 selama delapan tahun berkarir di Real Madrid.
Dalam catatan Pakar Sepakbola Spanyol, Guillem Balague, selama delapan tahun sudah 20 kasus dugaan pelecehan rasis yang diterima pemain 25 tahun tersebut.
Guilem Balague menyebut Vinicius Junior telah menjadi simbol atas gerakan anti-rasisme di dunia.
“Karena (Vinicius Junior) ingin agar pihak berwenang memperketat protokol tersebut,” tulis Guillem Balague dalam laporannya di kanal BBC Sport.
Ia menuliskan, bila peristiwa di Stadion da Lus, Lisbon, Portugal kandang Benfica, merupakan catatan ke 20 dari sederet peristiwa yang menimpa Vinicius Junior.

Peristiwa pertama terjadi dalam laga besar El Clasico di Camp Nou, Barcelona, pada Oktober 2021.
Kasus itu dihentikan, lantaran pihak kepolisian Spanyol tak dapat dibuktikan pelaku yang meneriakkan hinaan rasis ke Vinicius Junior.
Kemudian pada Maret 2022, penggemar Mallorca menirukan suara monyet ke arah Vinicius Junior dan menyuruhnya untuk “pergi memetik pisang”. Tapi kasus itu diputuskan tidak bernilai kriminal.
Dalam program sepak bola Spanyol El Chiringuito, Pedro Bravo, kepala Asosiasi Agen Sepak Bola Spanyol, menyarankan Vinicius Junior untuk “berhenti bertingkah seperti monyet” dan menghormati lawan-lawannya.
Dia kemudian meminta maaf di X, mengklaim bahwa dia telah “salah menggunakan ungkapan tersebut… secara metaforis untuk berarti ‘bermain-main'”.
Komentar tersebut menimbulkan kemarahan, terutama di Brasil. Tidak ada tindakan lebih lanjut yang diambil.
Pada September 2022, para penggemar Atletico Madrid meneriakkan hinaan rasis di luar stadion. Tapi proses hukum tak menjatuhkan hukuman bagi para pelaku.
Lalu ada juga kasus, sebuah boneka yang mengenakan jersey Vinicius Junior ditemukan tergantung di jembatan pada Januari 2023.
Empat anggota kelompok pendukung Frente Atletico dijatuhi hukuman penjara antara 14 sampai 22 bulan, yang kemudian diubah menjadi denda dan perintah penahanan.
Selanjutnya, terjadi di Valencia di Mestalla pada Mei 2023, ketika Vinicius menghadapi para penonton setelah dihina.
Pada Juni 2024, tiga penggemar dijatuhi hukuman delapan bulan penjara dan larangan memasuki stadion selama dua tahun karena peran mereka dalam pelecehan tersebut.
Ketika Vinicius Junior kembali ke Mestalla pada Maret 2024, ia disambut dengan sorakan ejekan. Namun dua gol, dirayakan dengan kepalan tangan terangkat.
Sebelas hari setelah kembali ke Mestalla, hinaan rasis terhadapnya diteriakkan sebelum pertandingan Liga Champions antara Atletico Madrid dan Inter. Real Madrid melaporkan insiden tersebut secara resmi.
Kemudian lima hari kemudian, di lapangan Osasuna terdengar teriakan “Vinicius mati”.
Pada 29 September 2024, empat orang ditangkap karena menghasut kampanye kebencian di media sosial secara anonim untuk menghina pemain tersebut selama pertandingan derbi melawan Atletico Madrid.
Baru-baru ini, pada Februari lalu, selama semifinal Copa del Rey melawan Real Sociedad, wasit Jose Maria Sanchez Martinez menghentikan pertandingan sesuai protokol anti-rasisme Spanyol .
Hal ini disebabkan oleh tindakan rasis ke Vinicius Junior. Kamera menangkap seorang penggemar yang membuat gerakan seperti ‘monyet’ ke arah Vinicius Junior jelang jeda pertandingan.
Lalu saat debut Alvaro Arbeloa sebagai manajer Real Madrid melawan Albacete di Copa del Rey, sekelompok penggemar mereka melontarkan hinaan rasis kepada pemain Vinicius Junior.
Dalam sajian catatan ini, Guillem Balague menegaskan bila dirinya bukan korban rasisme.
Tapia Guillem Balague menjadi bagian pihak yang memerangi rasisme.
Bila pelaku diberikan hukuman penjara, kemenangan yang ia sebut sebagai kemenangan untuk semua orang kulit hitam di dunia sepakbola.
“Saya algojo para rasis,” ucap dia.
