BERAU TERKINI – Keberadaan Rene Matcha Specialty menghadirkan warna baru bagi bisnis FnB di Berau yang kini dipenuhi oleh coffee shop.

Di tengah maraknya kedai kopi di Berau, muncul satu nama yang membawa aroma dan warna berbeda: Rene. Bukan kopi, melainkan matcha, teh hijau khas Jepang yang kini mulai digemari anak muda.

Bagi Firda Zakia, salah satu pendiri Rene, perjalanan ini berawal dari kecintaannya pada teh sejak lama.

“Aku dari dulu tea person, bukan coffee person,” ujarnya sambil tersenyum.

Sejak SMA, Firda sudah bermimpi memiliki tea house sendiri. Saat kuliah, tren green tea mulai populer, dan dari situlah ia mengenal matcha.

“Sejak kenal matcha, aku gak pernah nyobain minuman lain. Teman-temanku pun udah hafal pesenanku selalu matcha,” kenangnya.

Minuman matcha andalan Rene (Ist)
Minuman matcha andalan Rene (Ist)

Siap Hadapi Persaingan Coffee Shop

Inspirasi untuk membuka kedai matcha muncul saat Firda melihat acara local market di Jakarta bernama Bright Spot, yang menampilkan berbagai brand lokal termasuk specialty matcha bernama Hakuji.

“Waktu itu aku cuma lihat di story Instagram, tapi langsung tertarik banget. Dari situ aku mulai ngikutin perkembangan matcha dan ngulik tentang dunia matcha,” ceritanya.

Kesempatan datang ketika rekan sekaligus partner bisnisnya, Riskianis Edwar, menawarkan tempat untuk dijadikan usaha. “Waktu itu aku pikir, semua orang di Berau kan suka kopi. Belum ada yang matcha. Jadi kenapa gak aku coba?” katanya.

Minuman matcha andalan Rene (Ist)
Minuman matcha andalan Rene (Ist)

Meski di tengah gempuran coffee shop baru, Rene justru mendapat sambutan positif.

“Banyak orang yang awalnya bilang gak suka matcha, tapi setelah coba di Rene, jadi suka. Jadi kami yakin, matcha punya pasar sendiri,” ujarnya.

Untuk memahami cita rasa matcha sesungguhnya, Firda bahkan terbang ke Jakarta dan berkeliling mencicipi matcha dari berbagai kedai.

“Pas nyoba matcha di luar, aku langsung kayak mind blown. Rasanya rich banget, berlapis ada kacangnya, creamy, sedikit pahit tapi nikmat. Aku langsung bilang ke diri sendiri, ini harus aku bawa ke Berau,” ujarnya penuh semangat.

Rene pertama kali diperkenalkan ke publik pada 12 Januari 2025, melalui ajang Car Free Day (CFD) di Berau.

Sambutan positif dari masyarakat membuat tim kecil yang terdiri dari Firda Zakia, Riskianis Edwar, Annisa Amalia, dan Adit semakin yakin untuk melangkah.

Hanya dua bulan berselang, mereka resmi membuka kedai Rene pada Maret 2025, tepat di bulan Ramadan.

Firda Zakia bersama kawan-kawan pendiri Rene matcha specialty (Ist)
Firda Zakia bersama kawan-kawan pendiri Rene matcha specialty (Ist)

Nama “Rene” sendiri memiliki filosofi mendalam. Terinspirasi dari kata renaissance yang berarti kebangkitan atau pembaharuan, nama ini dipilih sebagai simbol awal baru dalam perjalanan mereka.

“Kami ingin Rene jadi titik awal dari sesuatu yang baru,” jelas Firda.

Menariknya, pilihan warna Rene hijau, merah, dan kuning juga sarat makna. Hijau melambangkan bumi yang kokoh, merah sebagai simbol semangat dan keberuntungan, sementara kuning diartikan sebagai kemakmuran.

“Kami ingin Rene tetap kokoh, penuh semangat, dan membawa keberuntungan untuk semua,” katanya.

Konsep kedai Rene memang berbeda dari coffee shop pada umumnya. Nuansa hangat dan homie langsung terasa sejak pertama kali masuk. Kursi dan meja yang berbeda-beda justru menciptakan kesan organik dan santai.

“Aku pengen Rene terasa seperti rumah. Aku suka nongkrong, dan dari dulu selalu suka tempat yang nyaman dan terasa hidup,” ungkap Firda.

Suasana Rene, matcha specialty di Berau (Diva/BT)
Suasana Rene, matcha specialty di Berau (Diva/BT)

Tantangan Menjaga Kualitas Matcha

Namun perjalanan ini tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan bahan baku.

“Pertengahan tahun kemarin, matcha dari Jepang sempat langka sampai tiga bulan. Jadi kita sempat kesulitan. Tapi kami tetap berusaha cari alternatif dengan powder premium agar bisnis tetap jalan,” jelasnya.

Bagi Firda, Rene bukan hanya tentang matcha, tapi tentang menghadirkan pengalaman. Ia berharap Rene bisa menjadi ruang yang menenangkan sekaligus wadah kreatif bagi masyarakat Berau.

“Aku pengen Rene jadi tempat orang nyaman nongkrong, menikmati kesendiriannya, tapi juga bisa jadi ruang kolaborasi. Tempat bertemu ide, produk, dan orang-orang kreatif,”tutupnya.(*)