BERAU TERKINI – Kunjungan wisatawan perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan perekonomian daerah yang bertumpu pada sektor pariwisata.
Dalam lima tahun terakhir, kunjungan wisatawan ke Kabupaten Berau tercatat mengalami peningkatan dari 127.396 pada 2020 menjadi 557.214 pada 2024.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Ilyas Natsir, menegaskan, target pasar pariwisata Berau tidak terbatas pada segmen premium, melainkan semua kalangan wisatawan.
“Kalau ditanya siapa target market kita, semua segmen, baik wisatawan lokal maupun internasional. Yang jelas kita sampaikan semua daya tarik wisata yang sudah dikelola, mulai dari pesisir, pedalaman, hingga budaya,” kata Ilyas.
Tahun ini, promosi pariwisata Berau dilakukan di empat bandara besar, yakni Bali, Surabaya, Balikpapan, dan Samarinda. Tahun depan, cakupan promosi ditargetkan bertambah menjadi enam bandara, termasuk Soekarno-Hatta (Jakarta) dan Makassar.
Tidak berhenti di bandara, wacana promosi juga diarahkan ke moda transportasi publik lain, seperti kereta api.

“Usulan ke KAI sudah kita jajaki. Kalau bisa terealisasi 2026–2027, kita bisa pasang video promosi, stiker di kursi, sampai konten. Itu akan menjangkau masyarakat yang belum pernah ke Kalimantan,” jelas Ilyas.
Disbudpar Berau menyiapkan sepuluh destinasi unggulan dalam materi promosi, mencakup keindahan bawah laut, panorama pesisir dan pedalaman, hingga seni tari tradisional. Konten dibuat dalam bahasa Indonesia dan Inggris agar dapat menjangkau wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Efektivitas promosi ini mulai terasa. Ilyas mencontohkan, dirinya pernah ditemui pejabat yang mengenalnya lewat video promosi Berau di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan.
“Itu bukti bahwa video benar-benar diperhatikan orang. Artinya pesan kita sampai,” tegasnya.
Selain promosi di pintu masuk strategis, Pemkab Berau juga menggenjot event budaya dan kreatif untuk memperkuat branding daerah sekaligus menumbuhkan dampak ekonomi nyata bagi pelaku UMKM.
Sejumlah event besar telah diusulkan, antara lain Bekudung Betiung, Pawai Budaya, Meja Panjang, Abut Basar dan Baturunan Perahu. Event tersebut diharapkan mampu menarik ribuan pengunjung, memperkuat konsistensi penyelenggaraan, sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi lokal.
“Event itu minimal berjalan selama tujuh hari agar dampak ekonominya terasa. Semakin banyak pengunjung, semakin besar pula pendapatan UMKM. Ini yang menjadi syarat penting agar event kita bisa masuk kategori bergengsi,” jelasnya.
Dengan kombinasi promosi menyeluruh dan penyelenggaraan event konsisten, pihaknya berharap mampu menarik lebih banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Strategi ini sekaligus memperkuat posisi pariwisata sebagai salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat.
“Kalau semua berjalan konsisten, dampaknya bukan hanya pada kunjungan wisatawan, tapi juga bagi UMKM, ekonomi kreatif, hingga branding Berau di kancah nasional maupun internasional,” terangnya.
