JAKARTA – Kehadiran film animasi Merah Putih: One For All menjadi sorotan warganet, produser bantah gunakan uang negara untuk produksi.
Jelang HUT RI, dunia sinema Indonesia dan media sosial diwarnai dengan perdebatan film animasi Merah Putih: One For All.
Diketahui film animasi Merah Putih: One For All memiliki tema kebangsaan, film ini akan dirilis di bioskop pada 14 Agustus atau jelang HUT RI.
Warganet di media sosial menyoroti kualitas Merah Putih: One For All dan waktu produksi film animasi yang sangat singkat.
Di samping itu isu film animasi Merah Putih: One For All didanai dari uang negara juga sempat ramai.
Belakangan diketahui film animasi Merah Putih: One For All diproduksi oleh rumah produksi Perfiki Kreasindo.
Terbaru, produser Merah Putih: One For All membantah tuduhan tersebut. Menurut Produser film animasi Merah Putih One: For All yakni Toto Soegriwo pihaknya tidak menggunakan uang negara.

“Menanggapi tudingan yang beredar luas di media sosial mengenai dugaan penerimaan dana sebesar Rp 6,7 miliar dari pemerintah untuk produksi film animasi “Merah Putih One For All”, saya, Toto Soegriwo selaku Produser, dengan tegas menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar dan merupakan fitnah keji,” tulis pernyataan Toto Soegriwo di akun X @totosoegriwo.
Dirinya juga meminta masyarakat dan warganet menghentikan tuduhan yang berujung pada fitnah. Menurutnya tuduhan hingga fitnah tersebut juga berdampak kepada keluarganya.
“Kami tidak pernah menerima satu rupiah pun dana dari pemerintah, apalagi melakukan tindakan korupsi atau memanfaatkan uang haram sebagaimana yang dituduhkan. Isu ini tidak hanya menyerang pribadi saya, tetapi juga berdampak serius terhadap keluarga, istri, dan anak-anak saya yang kini mengalami tekanan mental dan rasa tertekan akibat hujatan yang tersebar,” ujarnya.
“Sehubungan dengan hal ini, kami memohon kepada masyarakat dan warganet untuk tidak serta-merta ikut menyebarkan informasi yang tidak benar, serta menghentikan segala bentuk hujatan, fitnah, dan serangan tanpa dasar,” katanya.
Lebih jauh, Toto Soegriwo juga menguatkan kembali pernyataan Wamenekraf Irene Umar soal tidak adanya keterlibatan pemerintah dan uang negara dalam produksi film animasi Merah Putih: One For All.
“Pihak pemerintah melalui Ibu Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreat if, juga telah memberikan klarifikasi resmi bahwa pada saat menerima audiensi tim “Merah Putih One For All”, beliau hanya memberikan sejumlah masukan terkait cerita, karakter, visual (look and feel), trailer, dan aspek kreatif lainnya-sebagaimana beliau lakukan kepada setiap pihak yang beraudiensi. Beliau tidak memberikan bantuan finansial maupun fasilitas promosi kepada film ini,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Media sosial diramaikan oleh kemunculan trailer film animasi berjudul Merah Putih: One For All.
Film animasi ini mengusung tema kebangsaan dan akan ditayangkan di bioskop pada 14 Agustus 2025 atau jelang HUT RI. Kemunculan trailer film animasi Merah Putih: One For All sontak menjadi sorotan warganet di media sosial X.
Sebab film animasi Merah Putih: One For All disebut menelan biaya produksi yang besar. Warganet pun menyoroti kualitas animasi yang ditampilkan oleh Merah Putih: One For All.
Sejumlah warganet menyebut biaya produksi yang besar tersebut tak sepadan dengan kualitas animasi Merah Putih: One For All.
Belakangan diketahui, film animasi Merah Putih: One For All diproduksi oleh rumah produksi Perfiki Kreasindo.
Dilansir Beritasatu, rumah produksi Perfiki Kreasindo berada di bawah naungan Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail yang beralamat di Jalan HR Rasuna Said nomor 22 Kavling C, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan.
Yayasan ini merupakan lembaga nirlaba yang fokus pada pengembangan perfilman nasional dan juga menaungi Citra Film School yang telah berdiri sejak 1982.
Meski namanya kini ramai dibicarakan, informasi publik mengenai Perfiki Kreasindo masih terbatas. Situs resminya, perfiki.com, saat diakses menampilkan Error 403 Forbidden.
Sementara itu, akun Instagram @perfiki.tv menunjukkan aktivitas rumah produksi ini, mulai dari kelas akting hingga penyelenggaraan ajang Putri Asuransi Indonesia.
Untuk diketahui, film animasi Merah Putih: One For All diproduseri oleh Toto Soegriwo sebagai produser utama, dengan Sonny Pudjisasono sebagai produser eksekutif.
Sutradara sekaligus penulis skenario adalah Endiarto dan Bintang Takari, yang juga bertindak sebagai animator visual utama.
Proyek ini digarap sejak Juni 2025 dan hanya memakan waktu sekitar satu bulan hingga siap tayang di bioskop.
Kecepatan produksi ini turut menjadi sorotan, mengingat kualitas animasi yang dianggap kurang matang oleh sebagian penonton.
Kritik yang datang tidak hanya soal teknis animasi, tetapi juga narasi dan representasi budaya.
Padahal, film ini bercerita tentang delapan anak dari berbagai daerah di Indonesia yang bersatu untuk menyelamatkan bendera pusaka yang hilang sebelum upacara 17 Agustus.

Warganet juga menyoroti sumber pendanaan produksi film Merah Putih: One For All, sejumlah warganet menyebut pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif atau Kemenkraf turut membantu produksi film animasi tersebut.
Pernyataan sejumlah warganet ini didasarkan pada pertemuan rumah produksi Perfiki Kreasindo dengan Wamenekraf Irene Umar.
Namun Wamenekraf Irene Umar membantah Kemenkraf mendanai film animasi tersebut, meski begitu Irene Umar membenarkan pernah menerima Perfiki Kreasindo dalam sebuah audiensi di kantornya.
“Hi teman-teman #Pejuang Ekraf dimanapun kalian berada, semoga dalam keadaan sehat senantiasa. Lagi ramai dibincangkan tentang Film One for All. Selamat atas penayangannya yah,” tulis Irene Umar dalam akun Instagram @irene.umar
“Sedikit berbagi: saya sendiri menerima audiensi tim produksi film beberapa waktu yg lalu dimana saya menyampaikan beberapa masukan dari saya termasuk yg technical terkait cerita karakter looks and feels, trailer dll. Hal ini selalu saya lakukan di setiap audiensi dengan semua pihak supaya setiap audiensi saya bisa mendengar lgsg dari pelaku industri dan memberikan feedback based on my experience. Semua #PejuangEkraf itu bebas berkarya, selama memberi dampak positif. Namun kami tidak memberikan bantuan financial dan tidak memberikan fasilitas promosi,” lanjutnya.
