BERAU TERKINI – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Berau mulai mencermati kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait rencana pemangkasan produksi batu bara. 

Mengingat sektor pertambangan merupakan tulang punggung ekonomi daerah, kebijakan ini memicu kekhawatiran akan stabilitas lapangan kerja di Bumi Batiwakkal.

Kepala Disnakertrans Berau, Zulkifli Azhari, mengakui, potensi penurunan kuota produksi menjadi ancaman serius bagi kelangsungan industri tambang lokal.

Meski demikian, hingga saat ini pihaknya mencatat belum ada dampak langsung yang terlihat secara signifikan terhadap aktivitas operasional perusahaan maupun status ketenagakerjaan.

“Kita khawatirkan, tapi sampai sekarang imbas itu belum ada. Itu mungkin dari pihak perusahaan harus lebih lagi memperjuangkan itu,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Aktivitas pertambangan batu bara di Berau.
Aktivitas pertambangan batu bara di Berau.

Pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang.

Jika kuota produksi dalam RKAB benar-benar dipangkas, hal tersebut dikhawatirkan akan memicu gelombang pengurangan tenaga kerja sebagai langkah rasionalisasi perusahaan.

Disnakertrans menegaskan agar perusahaan lebih gigih dalam memperjuangkan kuota produksinya agar efisiensi tenaga kerja tidak menjadi pilihan utama. 

Namun, jika kondisi mendesak mengharuskan adanya pengurangan, pihak dinas meminta agar pekerja lokal tetap menjadi prioritas untuk dipertahankan.

“Kalau yang lokal kita artinya jangan dulu dikurangi lah tenaga kerja lokal. Mungkin secara rasionalisasi itu perusahaan lebih bijak untuk penyerapan,” jelasnya.

Pemerintah berharap perusahaan tambang tetap bijak dalam mengambil keputusan strategis. 

Alih-alih melakukan pengurangan, perusahaan diharapkan tetap konsisten dalam menyerap tenaga kerja lokal guna menjaga stabilitas ekonomi di tingkat akar rumput.

Disnakertrans Berau juga berkomitmen untuk terus mengawal isu ini agar setiap kebijakan yang diambil oleh perusahaan tetap mempertimbangkan nasib para pekerja daerah.

“Mudah-mudahan jangan sampai kurang, kita lagi ngejar-ngejarnya nih kerja,” pungkasnya. (*)