BERAU TERKINI – Sektor agroindustri di Kabupaten Berau memiliki potensi untuk semakin digenjot produktivitasnya pada tahun-tahun mendatang guna menunjang ketahanan pangan masyarakat.

Namun, peningkatan produktivitas saja tidak cukup, perlu dibangun industri pengolahan agar menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Diskoperindag Berau kini fokus untuk meningkatkan industri pengolahan, baik dari hasil pertanian, perkebunan, serta kerajinan khas daerah.

“Untuk produk berbasis pertanian, khususnya jagung, saat ini sedang kami kembangkan melalui program magang bagi calon pelaku usaha,” kata Kepala Diskoperindag Berau, Evan Yunita.

“Kami ada pelatihan pengolahan jagung dan kakao, termasuk produk turunannya, seperti cokelat. Jadi pelaku UMKM bisa mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah,” jelas Eva.

Sementara untuk produk perkebunan, seperti kelapa dalam, sudah dianggarkan pada 2026 dalam bentuk pelatihan pembuatan sabun mandi di Pulau Maratua.

Eva menambahkan, pengembangan produk berbasis kerajinan limbah kelapa sudah lama dikembangkan di Biduk-Biduk. Lalu, untuk komoditas cokelat telah berjalan di Kampung Labanan Makarti.

Kegiatan pelatihan hospitality pelaku udaha wisata di Pulau Derawan
Kegiatan pelatihan hospitality pelaku udaha wisata di Pulau Derawan.(Dok UPT Pariwisata Disbudpar Berau)

“Untuk daerah lain, Kampung Merasa sudah menjalin kerja sama dengan Dinas Perindagkop dan UKM Kaltim. Sedangkan di Kampung Suaran, hasil studi kelayakan pada 2024 menunjukkan potensi yang sangat baik untuk pengembangan berikutnya,” imbuhnya.

Pihaknya juga menekankan pentingnya memperkuat produk khas lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas. Sejumlah produk unggulan yang dinilai layak dipasarkan antara lain terasi, udang kering, ikan asin, kalampuri, abon ikan (cakalang, tuna, tongkol, bandeng, kepiting), gula aren Dumaring, cokelat bubuk, madu, hingga camilan khas.

Berau juga memiliki produk unggulan kerajinan, seperti tenun dan batik motif Berau, kerajinan kayu ulin, kayu kelapa, ukiran, anyaman rotan, hingga manik khas Dayak.

“Semua ini harus kita dorong agar tidak hanya bertahan di pasar lokal, tapi juga bisa bersaing di tingkat regional bahkan nasional,” ujarnya.

Untuk pengembangan sektor pariwisata, Diskoperindag Berau juga fokus  membina UMKM agar mampu menghasilkan produk khas daerah yang bisa menjadi oleh-oleh wisatawan.

“Kami membantu mulai dari perizinan, seperti NIB hingga sertifikasi halal, kemudian juga pelatihan, serta fasilitasi pemasaran melalui bazar maupun media. Harapannya ekonomi Berau meningkat dari sektor UMKM,” jelasnya.

Eva menyebut, pelaku UMKM di sektor pariwisata cukup beragam. Sebagian besar bergerak di bidang kuliner, pengolahan hasil laut, hingga usaha yang mendukung layanan wisata seperti penginapan.

“Banyak di Pulau Derawan, Biduk-Biduk, juga Maratua. Mereka memang mendukung aktivitas pariwisata, walaupun sektornya berbeda-beda, mulai kuliner, hotel, hingga jasa lain,” terangnya.

Pihaknya juga secara rutin mengadakan pelatihan. Beberapa di antaranya pelatihan pengolahan ikan, tata boga, hingga kewirausahaan di kecamatan-kecamatan destinasi wisata.

“Bulan lalu kami gelar di Biduk-Biduk, bulan depan kemungkinan di Maratua. Jadi bukan hanya pelatihan, tapi juga ada pendampingan agar produk UMKM lebih siap dipasarkan,” ujarnya.

Dia menegaskan, kolaborasi dengan dinas lain terus diperkuat, baik dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata maupun Dinas Pertanian dan Perkebunan.

“Harapan kami, UMKM semakin berkembang dan pariwisata Berau tidak hanya menjual panorama, tetapi juga oleh-oleh khas yang bisa dibawa pulang wisatawan,” pungkasnya.