BERAU TERKINI – Ratusan jemaah memadati Masjid Nurul Ilmi di Jalan Al-Bina, Gunung Panjang, untuk melaksanakan ibadah Salat Idulfitri pada Jumat (20/3/2026) pagi.
Pelaksanaan ini menandai perayaan hari kemenangan bagi warga Muhammadiyah di Kabupaten Berau, meskipun terdapat perbedaan waktu dengan pemerintah yang baru akan melaksanakan Salat Idulfitri pada Sabtu (21/3/2026) besok.
Ibadah yang rutin digelar di halaman masjid tersebut dimulai tepat pukul 07.10 WITA dan berlangsung dengan sangat khidmat serta tenang.
Bertindak sebagai imam adalah Ustadz Khairul Anwar, sementara khutbah Idulfitri disampaikan oleh Ustaz Daud Badaruddin.

Dalam suasana yang suci, para jemaah tampak mengenakan pakaian terbaik mereka, bersiap untuk saling memaafkan usai sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Dalam ceramahnya, Ustaz Daud Badaruddin menekankan esensi kegembiraan Idulfitri sejatinya bukan sekadar merayakan berakhirnya masa menahan lapar dan dahaga.
Ia mengingatkan jamaah, kebahagiaan yang hakiki terletak pada harapan akan ridha Allah SWT atas segala amalan yang telah dikerjakan selama bulan suci.
“Kegembiraan yang sejati adalah kegembiraan seorang hamba yang berharap puasanya diterima, qiyamnya diterima, tilawahnya diterima, sedekahnya diterima, dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah,” jelas Ustaz Daud saat berada di atas mimbar.
Ia memberikan nasihat mendalam agar kaum Muslimin tidak melalaikan salat lima waktu.
Menurutnya, salat adalah pembeda utama antara keimanan dan kekufuran, sekaligus menjadi kunci diterimanya amal ibadah lainnya di akhirat kelak.
“Salat adalah amal pertama yang dihisab pada hari kiamat. Kalau salatnya baik, baik lah amal yang lain. Kalau salatnya rusak, rusaklah amal yang lain,” tegasnya di hadapan ratusan jamaah yang menyimak dengan saksama.
Ustaz Daud juga menyinggung hakikat puasa yang seharusnya mampu menundukkan hawa nafsu secara menyeluruh, bukan hanya menahan haus di tenggorokan.
Idulfitri disebut sebagai momentum yang paling tepat untuk bertaubat jika selama Ramadan masih ada maksiat yang belum ditinggalkan.
Ia menguatkan hati para jemaah agar tidak berputus asa karena pintu ampunan Allah selalu terbuka luas selama nyawa masih dikandung badan.
Nasihat terakhir yang tak kalah menyentuh adalah seruan untuk memuliakan kedua orang tua.
Ustadz Daud mengajak jemaah untuk membuang jauh sifat durhaka dan menjadikan momen lebaran sebagai ajang memperbaiki hubungan keluarga.
“Hari raya seperti ini adalah waktu terbaik untuk kembali direndahkan hati, waktu terbaik untuk memohon maaf, waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan orang tua dengan diri kita,” ungkapnya dengan nada haru.
Khutbah yang berlangsung selama kurang lebih 20 menit tersebut ditutup dengan doa bersama yang menggetarkan hati.
Rangkaian ibadah berakhir pada pukul 08.00 WITA, ditutup dengan sesi saling bersalaman antarjemaah.
Sebagai pesan penutup, Ustaz Daud mengajak seluruh umat untuk membawa semangat perubahan selepas Ramadan.
“Mari jadikan Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum perubahan dari lalai menjadi sadar, dari jauh menjadi dekat kepada Allah,” tandasnya. (*)

