BERAU TERKINI – Suasana khidmat menyelimuti Bumi Batiwakkal saat Tri Hari Suci umat Katolik tiba, berselang tak lama setelah kemeriahan Lebaran.
Lantunan syahdu takbir yang sebelumnya menggema di malam kemenangan Idulfitri, kini berganti dengan penghayatan mendalam atas pekikan “Golgota” dan seruan “Alleluya” menyambut Hari Raya Paskah.
Di Tanjung Redeb, Jumat Agung (3/4/2026) menjadi momen yang emosional.
Kisah sengsara hingga wafatnya Yesus Kristus ribuan tahun silam kembali dihidupkan melalui pementasan drama atau visualisasi jalan salib hidup (Tablo).
Antusiasme umat Paroki Santo Eugenius de Mazenod (Eudema) begitu besar, bahkan area parkir Masjid Agung Baitul Hikmah tampak dipadati kendaraan jemaat yang meluap.
Sekira pukul 08.00 WITA, halaman Gereja Eudema telah berubah menjadi lautan manusia.

Sebanyak 50 personel Orang Muda Katolik (OMK) terlibat langsung dalam pementasan yang menggambarkan tragedi penyaliban penuh derita, namun berlandaskan cinta yang luar biasa.
Pastor Kepala Paroki Eudema Tanjung Redeb, Pastor Tri Supriationo, menjelaskan, visualisasi ini bertujuan mengenangkan kembali pengorbanan Yesus yang merelakan nyawa demi menyelamatkan umat manusia.
Melalui drama ini, umat diajak untuk merefleksikan makna pengorbanan yang tulus.
“Sehingga kita juga diajak untuk tidak takut mati karena mencintai dan tidak lagi ragu karena pengorbanan-Nya tidak sia-sia,” ungkap Pastor Tri.
Ia menambahkan, pesan moral dari Jumat Agung adalah keberanian dalam menghadapi penderitaan demi sebuah nilai kebenaran.
“Karena kalau orang mau berkorban, memang harus menderita. Dan penderitaan dalam kebenaran menjadi tanda kemuliaan dan jalan menuju kebahagiaan,” sambungnya.
Pastor Tri juga memberikan apresiasi tinggi kepada para pemuda yang terlibat.
Baginya, OMK bukan sekadar pembantu kegiatan, melainkan aset dan penentu masa depan Gereja.
Kehadiran mereka yang aktif menjadi bukti Gereja tetap relevan dan progresif.
“Gereja selalu bersama dengan orang muda. Karena ada orang muda, Gereja menjadi hidup dan berdaya,”jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, Pendamping OMK Eudema, Nelos Koban, menegaskan, kepercayaan penuh telah diberikan oleh Panitia Natal-Paskah serta Dewan Pastoral Paroki (DPP) kepada kaum muda untuk mengelola agenda besar ini.
“Kegiatan ini juga didukung oleh Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan pastor kepala paroki,” terangnya.
Nelos berharap OMK terus menjadi aktor utama dalam pembangunan Gereja dan siap bersinergi dengan berbagai pihak dalam tugas-tugas kemasyarakatan lainnya.
Di balik suksesnya pementasan yang menyentuh hati tersebut, ada kerja keras selama satu bulan penuh.
Ketua OMK Eudema sekaligus sutradara pementasan, Kristian Kiasis, mengungkapkan, timnya berlatih intensif tiga kali seminggu untuk mematangkan setiap adegan.
Meski diterjang berbagai tantangan teknis dan keterbatasan, kekompakan anak muda Katolik Tanjung Redeb terbukti mampu menyuguhkan pementasan yang membuat umat yang menyaksikan larut dalam penghayatan.
“Semoga kami makin baik lagi ke depan dan makin kompak untuk melaksanakan semua kegiatan ke depannya,” tutup Kristian. (*)

