BERAU TERKINI – Pagi di awal tahun, Kamis (1/1/2026), suasana di Dermaga Rajanta, Tepian Jalan Ahmad Yani, tampak sibuk.
Di tengah keriuhan orang dan barang yang hendak menyeberangi Sungai Segah, terlihat sosok renta bernama Nasir yang sudah berpeluh sejak fajar.
Bermodalkan sebilah bambu sederhana, pria berusia 60 tahun ini berusaha sekuat tenaga mengenyahkan tumpukan sampah kayu yang menyangkut di badan dermaga.
Bagi Nasir, tumpukan kayu ini bukan sekadar pemandangan yang merusak estetika dermaga yang baru direnovasi enam bulan lalu itu.
Lebih dari itu, sampah kayu yang hanyut dari hulu dan hilir Sungai Segah serta Sungai Kelay ini menyimpan ancaman nyata.
Arus sungai yang deras bisa menyeret kayu-kayu besar tersebut, menghantam tiang dermaga, dan membahayakan keselamatan para penumpang.
“Iya, saya sendirian aja,” tutur Nasir lirih sembari terus memilah kayu yang menyangkut.
Tantangan yang dihadapi Nasir tidaklah ringan. Ukuran kayu yang terbawa arus sangat bervariasi, mulai dari ranting kecil hingga batang pohon raksasa dengan diameter mencapai 70 sentimeter.
Karena letak dermaga berada tepat di persimpangan dua sungai besar, lokasi ini menjadi titik kumpul alami bagi segala jenis material hanyut.
“Kayunya besar betul, berat untuk digeser,” keluh motoris senior ini.
Dedikasinya ini bukan tanpa risiko. Di usianya yang mulai senja, Nasir mengaku pernah tumbang karena kelelahan setelah memaksa tubuhnya mendorong beban kayu yang terlampau berat.
Biaya pengobatan yang harus ia tanggung pun tak sebanding dengan penghasilannya sehari-hari.
Sekali berobat ke klinik, ia harus merogoh kocek hingga Rp400 ribu, sementara pendapatan dari menarik kapal hanya berkisar Rp100-150 ribu per hari.
“Tidak sepadan. Tapi ya mau gimana lagi,” ucapnya.
Meski berat, rasa tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah di dermaga tersebut mengalahkan rasa lelahnya.
Sesekali, rekan sesama motoris turut membantu jika tumpukan kayu sudah sangat mengkhawatirkan.
Perhatian pemerintah pun sebenarnya pernah hadir, seperti saat Bupati Berau Sri Juniarsih turun langsung membersihkan sampah kayu pada peringatan Hari Lingkungan Hidup lalu.
Namun, Nasir menilai aksi tersebut barulah solusi di permukaan, bukan penanganan di akar masalah.
Menurut Nasir, pemerintah perlu memikirkan solusi jangka panjang, seperti memasang jaring penghalau di kolong dermaga, agar kayu-kayu tersebut tidak masuk dan tersangkut di tiang penyangga.
“Kalau tidak ada itu, kayu-kayu ini mudah masuk di kolong,” jelasnya.
Ia juga berharap alat angkut sampah milik pemerintah bisa diaktifkan secara rutin untuk menangani sampah berukuran kecil.
Untuk kayu-kayu besar yang sulit digerakkan, Nasir menyarankan adanya bantuan alat potong agar beban evakuasi lebih ringan.
Tanpa bantuan peralatan yang memadai, tenaga manusia seperti dirinya tentu akan terus kewalahan menghadapi kiriman kayu dari hulu sungai.
“Ini di chainsaw baru bisa, kalau diangkat bulat-bulat berat lah itu,” pungkas Nasir. (*)
