TANJUNG REDEB – Sentra tenun yang berdiri di Kampung Sukan, Sambaliung, memberi ruang bagi para penenun lokal untuk terus berkarya dengan cara tradisional. 

Dari sepuluh ruangan yang tersedia, delapan di antaranya telah dilengkapi alat tenun dan aktif digunakan untuk memproduksi kain khas Berau.

Di sentra ini, para pengrajin menggunakan dua jenis alat utama, yaitu alat tenun bukan mesin (ATBM) dan gedogan. 

Meski sederhana, kedua alat ini terbukti mampu menghasilkan kain dengan corak khas, tekstur unik, dan nilai budaya tinggi. Proses pengerjaannya yang sepenuhnya manual membuat hasilnya tak hanya bernilai seni, tapi juga bernilai ekonomi.

ATBM biasanya digunakan dalam posisi duduk atau berdiri. Karena digerakkan dengan tenaga manusia, alat ini lebih cocok digunakan untuk industri skala kecil dan produksi kain tradisional. 

Setiap tahap dikerjakan secara bertahap, mulai dari membentuk mulut lusi, meluncurkan teropong, menekan hingga menggulung kain.

Sementara gedogan digunakan dengan cara dipangku atau digendong sambil duduk di lantai. Alat ini membutuhkan sejumlah komponen pelengkap seperti pajal, kluntungan benang, undar jantra, pamanen, dan teropong. 

Semua bagian alat menyatu langsung dengan tubuh penenun, menjadikan proses menenun sebagai kerja keterampilan yang sangat personal.

“Kalau alat sebenarnya sudah cukup ya, karena ada dua jenis alat tenun yakni alat tenun bukan mesin dan ada juga gedogan,” ujar Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita.

Menurut Eva, kain yang dihasilkan dari gedogan memiliki nilai jual tinggi. Hal ini bukan semata karena motifnya, tapi karena proses pengerjaan yang memerlukan ketelatenan tingkat tinggi.

“Proses menenun ini sangat rumit dan lama, yang membutuhkan ketelatenan serta kesabaran,” ujarnya menegaskan.

Dengan sarana yang kini lebih lengkap dan keterampilan yang terus diasah, penenun Berau siap memenuhi permintaan dalam jumlah besar. 

Kain tenun hasil mereka tidak hanya diminati pasar lokal, tapi juga mulai diproyeksikan untuk menjangkau pasar mancanegara sebagai produk budaya unggulan. (Adv/Aya)