BERAU TERKINI – MUI Berau buka suara soal aksi pencurian batu nisan di Teluk Bayur.
Aksi pencurian batu nisan di Kecamatan Teluk Bayur yang sempat menghebohkan media sosial di Kabupaten Berau, belum lama ini mendapat tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Berau.
Hilangnya batu nisan tersebut memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Mulai dari dugaan praktik ilmu hitam, hingga kemungkinan batu nisan dicuri untuk diperjualbelikan kembali.
Anggota Majelis Fatwa MUI Berau, Hasanuddin Arofah, mengatakan, praktik pencurian yang berkaitan dengan benda-benda di pemakaman, umumnya kerap dihubungkan dengan upaya mencari ilmu gaib.
“Iya, biasanya kalau peristiwa pencurian seperti itu dekat dengan mencari ilmu-ilmu yang sifatnya gaib. Di dalam Islam itu sesat, bisa dikatakan ilmu setan,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Menurutnya, dalam sejumlah kepercayaan menyimpang, ada syarat-syarat aneh yang harus dipenuhi untuk mendapatkan ilmu tertentu.

Seperti mencuri kain kafan, hingga batu nisan. Hal tersebut, jelas sangat dilarang dalam ajaran Islam.
“Perkara-perkara yang sifatnya tidak masuk akal, aneh dan ganjil seperti itu bagian dari yang dilarang,” jelasnya.
Meski demikian, Hasanuddin mengaku baru mengetahui informasi terkait kasus pencurian batu nisan tersebut, dan belum pernah mendengar kejadian serupa sebelumnya di wilayah Berau.
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat agar tidak tergoda mencari jalan pintas untuk meraih kekayaan atau kedudukan, melalui cara-cara yang bertentangan dengan syariat.
“Kalau secara syariat Islam, rezeki itu sudah diatur oleh Allah sebagai bagian dari takdir. Tapi takdir itu juga dikaitkan dengan usaha yang kita lakukan,” terangnya.
“Dengan bekerja keras, berhemat, menabung, atau masuk ke dunia bisnis yang baik dan halal,” sambungnya.
Ia menegaskan, bahwa dalam kehidupan nyata, keberhasilan ekonomi diraih melalui usaha yang sungguh-sungguh dan doa. Bukan melalui praktik-praktik yang melibatkan makhluk halus atau setan.
“Jangan sampai mencari rezeki dengan cara yang haram. Misalnya, berkolaborasi dengan makhluk-makhluk halus atau syaitan. Itu diharamkan di dalam Islam,” tegasnya.
MUI Berau pun mengajak umat Muslim, khususnya di Berau, untuk tetap berpegang teguh pada ajaran agama dalam menghadapi persoalan ekonomi dan sosial.
Rezeki, katanya, akan datang seiring dengan usaha dan doa yang dilakukan secara konsisten.
“Yang namanya rezeki itu Allah yang mengatur. Rezeki itu dikaitkan dengan usaha. Dengan usaha dan doa, insyaAllah rezeki itu akan bisa kita dapatkan,” pungkasnya. (*)
