BERAU TERKINI – PT Hutan Sanggam Berau (HSB) terus memacu kinerja demi mendongkrak profit perusahaan daerah tersebut. Sejumlah program strategis kini dimaksimalkan, mulai dari pemanfaatan hutan tanaman, pengembangan tanaman hortikultura, hingga optimalisasi aset kawasan.

Direktur Keuangan PT HSB, Adhi Dhatta Arief, menyebut langkah ini menjadi strategi paling realistis dan menguntungkan untuk dijalankan saat ini. Menurutnya, sektor produksi kayu dari hutan tanaman industri sejauh ini masih berjalan, sesuai dengan core bisnis HSB di bidang perkayuan.

Namun, tantangan ke depan justru berada pada pengembangan sektor hortikultura. Meski telah dirintis, sektor ini masih membutuhkan tindak lanjut yang lebih serius.

“Kami sepakat, jagung yang akan dikembangkan. Dan kami juga bekerja sama dengan Bulog untuk serapannya. Untuk harga juga sudah dipastikan aman,” kata Adi kepada Berauterkini pertengahan Desember 2025 lalu.

Bahkan, saking ambisinya dengan pengembangan jagung, pihaknya juga melakukan studi banding ke PT Sumalindo di Kecamatan Batu Putih terkait cara pengembangannya.

Hasil dari studi banding itu akan diterapkan di lahan atau di areal HSB yang sudah terbuka. Langkah ini menurutnya sangat efektif untuk mendapatkan hasil dalam waktu singkat.

“Program ini sangat cocok diterapkan ketika tebangan kayu berkurang. Dan jagung ini kan masanya singkat, jadi cepat memberikan pendapatan kepada HSB. Apalagi kita bisa mengadopsi cara Sumalindo melakukan panen satu hektar sebanyak 8 ton,” jelasnya.

Namun, bukan berarti hutan tanaman ditinggalkan. Tetapi, pemanenan tanaman hutan juga tidak bisa dilakukan sekaligus. Perlu strategis dan perhitungan agar bisa dilakukan berkelanjutan.

“Makanya kami menggagas tanaman hortikultura jenis jagung,” paparnya.

Menurut Adi, jagung dikenal dengan masa panen singkat, namun memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Masa panen hanya 4 bulan dan penanamannya juga mudah. Tapi tidak menutup kemungkinan ada jenis tanaman lain dikembangkan juga,” paparnya.

HSB kini tengah menyiapkan perubahan Rencana Kerja Usaha (RKU) dari hutan alam menjadi hutan tanaman dan hortikultura.

“Kami tidak bisa hanya berharap pada hutan alam jangka pendek. Ke depan, kami maksimalkan hutan tanaman dan hortikultura atau rekonfigurasi,” ujar Adi.

Selain studi banding, HSB juga sudah mulai diuji coba di Kampung Batu Rajang, Kecamatan Segah. Pada Agustus 2025, HSB menanam jagung di lahan seluas 5 hektare secara bertahap.

Panen perdana telah dilakukan dengan pendampingan Dinas Pertanian Kabupaten Berau dan pengamanan Polsek Segah. Meski hasil panen awal masih sekitar 1,2 ton per hektare, Adi optimistis angka tersebut dapat meningkat dengan pengelolaan yang lebih maksimal.

“Kalau dikerjakan secara serius dan terukur, hasilnya tentu akan jauh lebih baik,” katanya.

Dengan tren keuangan yang kembali positif dan strategi jangka panjang yang lebih terarah, Adi optimistis, HSB mampu mencapai pendapatan puncak baru dalam beberapa tahun ke depan.

“Kami sudah masuk jalur yang benar. Pengelolaan secara komprehensif ini luar biasa dampaknya,” ujarnya.

Saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Berau beberapa waktu lalu, Adi menjelaskan arah pengembangan tanaman hortikultura, terutama jagung.

Menurut Adi, prospek tanaman jagung dalam satu hektar bisa menghasilkan panen sekitar 5,5 ton dengan biaya produksi Rp14,5 juta. Harga jual jagung di Bulog saat ini sekitar Rp5.500 per kilogram.

Jika produksi tersebut bisa berjalan sesuai target, dalam satu hektar bisa menghasilkan total pendapat Rp30,2 juta. Lalu keuntungannya mencapai Rp15,7 juta dengan R/C Ratio sebesar 2,08.

Dalam contoh ini, usaha tani jagung menguntungkan karena R/C ratio lebih dari 1 dan petani memperoleh keuntungan sebesar Rp15.7 juta per hektare.

Namun, analisa perhitungan tersebut masih berupa Analisa Tematik yang diperoleh dari beberapa literatur. Untuk memastikan data tersebut sangat diperlukan Studi Kelayakan hingga penelitian menyeluruh, sehingga memberikan referensi yang tepat dalam menentukan jenis tanaman, metode pemupukan, teknologi yang digunakan, dan hasil panen yang maksimal.

“Tanaman ketahanan pangan mendapatkan jaminan pasok dan pasar dukungan penuh pemerintah, serta memiliki Return Of Asset yang tinggi karena dalam waktu 4 bulan efektif sudah memasuki masa panen. Tidak seperti pengusahaan Hutan Alam yang memerlukan jangka waktu yang panjang,” terang Adi.

Adi sendiri menyebutkan, HSB menargetkan bisa memanfaatkan lahan seluas 2.000 hektare di wilayah kelolaannya untuk penanaman jagung. Namun, untuk pelaksanaannya, pihaknya juga tidak bisa berjalan sendiri.

HSB akan menggandeng berbagai pihak untuk bekerja sama dan berkolaborasi dalam mengembangkan potensi produksi jagung di Bumi Batiwakkal, seperti petani lokal, Pemuda Tani, perusahaan tambang, Perum Bulog, hingga pemerintah daerah. (*)