Oleh: Akbar Patompo, SE., M.M (Ketua Pemuda Tani Kalimantan Timur)
PERTANIAN di Kalimantan Timur, termasuk Kabupaten Berau, menunjukkan dinamika yang menarik, penuh peluang, namun juga tantangan serius.
Pertanian di Kaltim bukan sekadar urusan pangan, tetapi menyangkut masa depan kedaulatan daerah, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan lingkungan.
Sebagai provinsi yang dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, Kaltim memiliki potensi besar dalam sektor pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan.
Komoditas seperti padi, jagung, kakao, lada, dan kelapa sawit telah lama menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat perdesaan.
Namun, kemajuan sektor ini menghadapi tantangan besar. Percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), ekspansi pertambangan, dan alih fungsi lahan terus menekan ruang pertanian.
Jumlah petani pun cenderung menurun seiring berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor ini.
Menurut data BPS Kaltim, jumlah usaha pertanian menurun sekitar 12,3 persen antara 2013–2023, yang menandakan tekanan alih fungsi lahan, baik untuk perumahan, pertambangan, maupun IKN. Ini risiko signifikan bagi ketahanan pangan lokal.
Produksi beras lokal sekitar 200 ribu ton per tahun masih jauh di bawah kebutuhan, yakni 450 ribu ton, atau defisit sekitar 250 ribu ton. Pemerintah menanggapi dengan program cetak sawah, mekanisasi, pupuk, dan irigasi.
Sementara di Kabupaten Berau, panen padi pada 2018 di lahan seluas 6.400 hektare menghasilkan sekitar 19.400 ton.
Di Kampung Buyung‑Buyung dengan potensi lahan sawah mencapai 1.000 Ha, namun hanya sekitar 500 Ha yang tergarap, dengan yield 4,5–5 ton per ha.
PDRB pertanian-penggalian masih menjadi kontributor utama ekonomi meski pertambangan mendominasi. Sektor pertanian tumbuh positif 7,28 persen pada 2024.
Secara umum, pertanian di Kaltim dan Berau berada di persimpangan: modal besar namun menghadapi tekanan sosial dan ekonomi. Sektor pertanian menghadapi risiko marginalisasi jika tidak dikelola dengan kebijakan tegas.
Di tengah tantangan tersebut, Kaltim tetap menunjukkan arah positif. Pemerintah daerah mulai mendorong adopsi teknologi, seperti pertanian presisi, digitalisasi rantai pasok, penggunaan alsintan, dan pengembangan kawasan pertanian terpadu.
Upaya ini mempertegas komitmen bahwa pertanian bukanlah sektor tertinggal, melainkan sektor strategis yang mampu menjawab isu pangan, energi, dan lapangan kerja secara berkelanjutan.
DPD Pemuda Tani Indonesia Kaltim menegaskan keberlanjutan pertanian di Benua Etam dapat terjadi jika mengadopsi skema kemitraan petani–investor untuk skala ekonomi.
Hal itu untuk menyelesaikan defisit pasokan pangan melalui percepatan cetak sawah dan pipeline pangan lokal, serta menyiapkan sistem pendataan dan zonasi guna mencegah alih fungsi lahan berlebihan.
Pertanian di Kaltim dan Berau menghadapi momen krusial. Sektor ini bisa tumbuh pesat apabila dipadukan dengan strategi data-driven, perlindungan lahan, modernisasi, serta penguatan koneksi ke pasar dan pariwisata.
Tanpa hal itu, segudang potensi bisa hilang tergerus tekanan pembangunan non-pertanian. (*)
