BERAU TERKINI – Dinas Perikanan Kabupaten Berau mengeluarkan imbauan tegas bagi para nelayan untuk tidak mengabaikan standar keselamatan, terutama saat mengoperasikan kapal tangkap ikan untuk mengangkut penumpang.

Langkah ini diambil menyusul insiden karamnya sebuah kapal nelayan di perairan Pulau Maratua pada Jumat (2/1/2025).

Dalam peristiwa mencekam tersebut, sebanyak 15 penumpang sempat terombang-ambing di laut setelah kapal miring akibat menghantam karang.

Kepala Diskan Berau, Abdul Majid, menjelaskan, kapal yang terlibat kecelakaan adalah milik pribadi nelayan asal Kampung Bohe Silian, Kecamatan Maratua.

Saat kejadian, kapal tersebut tidak sedang digunakan untuk melaut mencari ikan.

“Kapal itu digunakan untuk membawa sanak famili pemilik kapal yang hendak menuju Pulau Bakungan. Berdasarkan informasi, mereka merupakan satu rombongan keluarga,” ujar Majid saat dikonfirmasi, Sabtu (3/1/2025).

Majid menegaskan, para korban bukanlah wisatawan, melainkan penduduk asli Maratua. 

Namun, ia menyayangkan penggunaan kapal nelayan yang tidak dipersiapkan secara layak untuk mengangkut orang dalam jumlah banyak.

Dugaan sementara, penyebab utama kecelakaan adalah kelebihan muatan. 

Kapal yang idealnya hanya berkapasitas 7-10 orang tersebut dipaksakan memuat 15 orang. 

Kondisi ini diperparah dengan ketiadaan pelampung atau life jacket di atas kapal.

“Seharusnya keselamatan menjadi pertimbangan utama. Meskipun kapal nelayan, tetap wajib menyediakan life jacket jika digunakan untuk mengantar penumpang,” tegas Majid.

Camat Maratua, Arianto, membenarkan detail kronologi musibah tersebut. 

Kapal yang dinakhodai oleh Jupri (55) berangkat dari Dermaga RT 02 Kampung Bohe Silian menuju Pulau Bakungan.

Nahas, baru sekitar 20 menit berlayar, kapal kandas di atas karang. 

Posisi kapal yang miring menyebabkan air laut masuk dengan cepat hingga membuat sebagian penumpang terjatuh ke laut.

“Kapal tenggelam di kedalaman sekitar 4 meter. Beruntung, semua penumpang berhasil diselamatkan oleh kapal nelayan lain yang berada di sekitar lokasi,” terang Arianto.

Arianto meminta para nelayan maupun pengusaha jasa transportasi laut untuk lebih waspada terhadap rute pelayaran dan kondisi cuaca.

“Keselamatan harus jadi prioritas utama, apalagi di wilayah perairan yang banyak karang. Kami minta semua pihak lebih teliti demi menghindari kejadian serupa di masa depan,” pungkasnya. (*)