BERAU TERKINI – Suasana mencekam terjadi di pusat Kecamatan Segah saat sebuah Pangkalan BBM dan Gas LPG terbakar pada Sabtu (11/10/2025) sekira pukul 13.50 WITA.

Dalam video yang beredar di beberapa WhatsApp Grup, tampak kobaran api dengan asap hitam pekat menghanguskan bangunan Pangkalan BBM dan Gas LPG.

Lokasi pangkalan yang dekat SMP 1 Segah juga membuat si jago merah ikut melahap bangunan sekolah. Dikabarkan, 5 ruang kelas hanya tersisa tembok yang masih berdiri kokoh, sementara atap sudah jadi arang usai dikoyak api.

Tak hanya itu, rumah kontrakan empat pintu pun tak lolos dari kobaran api yang cepat menyambar akibat hembusan angin siang itu. Rumah pribadi warga juga ada yang menjadi bagian dari suasana mencekam siang itu. 

“Dari laporan masyarakat, ledakan berasal dari drum berisi bahan bakar minyak. Meledak dan meluber ke parit,” terang Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, saat dikonfirmasi Berauterkini, Minggu (12/10/2025).

Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk menjinakkan api. Keterbatasan unit pemadam kebakaran yang berada di sekitar lokasi kejadian membuat warga bersusah payah memadamkan api dengan peralatan seadanya. 

Nofian mengaku jumlah personel di kawasan perkampungan di Berau masih minim. Hanya tersedia satu unit kendaraan pemadam dengan dua personel.

Sadar dengan kekurangan itu, BPBD langsung mengerahkan regu Bantuan Komando Operasi (BKO) 65 yang berasal dari markas yang berada di Tanjung Redeb dan Labanan. Selain itu, ada bantuan dari KPHP Berau Barat.

“Total ada 4 unit yang turun. Dibantu dengan unit dari perusahaan yang operasi di sekitar kampung,” ucapnya.

Dia menyebut, tak ada korban jiwa dari kejadian tersebut. Namun, dari kejadian itu terdapat beberapa korban yang mengalami luka saat proses pemadaman dilakukan.

“Tidak ada yang sampai dilarikan ke puskesmas,” kata Nofian.

Dia membeberkan, lamanya proses pemadaman diakibatkan tumpahan minyak ke gorong-gorong. Api tersebut tak dapat dipadamkan menggunakan air yang diangkut di mobil pemadam.

Dibutuhkan busa dan tepung yang sama terkandung dalam APAR untuk memadamkan api tersebut. Belum lagi api yang menjalar cukup melebar karena minyak mengikuti arus parit di sekitar lokasi kejadian.

“Itu yang membuat pemadaman cukup lama, mungkin setengah jam,” ucapnya. 

Dari kejadian itu, BPBD Berau melakukan evaluasi diri. Keterbatasan unit hingga jumlah personel selalu menjadi momok yang belum rampung hingga saat ini.

Tak hanya di hulu, kawasan pesisir pun mengalami kondisi serupa. Alhasil ketika peristiwa kebakaran terjadi di kampung, petugas akan kewalahan untuk menjangkau titik api.

“Ini yang selalu kami tekankan, soal pengadaan SDM yang bersertifikasi dan unit tambahan di kampung,” tuturnya.

Nofian menegaskan, hal ini menjadi penting di tengah pertumbuhan penduduk di Berau yang kian masif. Dengan jumlah penduduk saat ini yang mencapai 300 ribu jiwa lebih, maka semakin tinggi pula potensi peristiwa bencana terjadi.

“Alhamdulillah dalam RPJMD Berau tahun ini telah masuk dalam langkah strategis pemerintah,” ujarnya.

Dia berharap, langkah serius ini tak dikesampingkan dalam proses pengadaan alat dan SDM khusus kebencanaan, mengingat APBD Berau berpotensi susut di tengah berkurangnya dana transfer dari pemerintah pusat.

“Semoga ini tetap menjadi prioritas,” harap dia. (*)