BERAU TERKINI – Suasana hangat menyelimuti area kebun di Kampung Birang, Kecamatan Gunung Tabur, saat warga, pemerintah, dan pihak perusahaan bersama-sama melakukan seremoni panen jagung melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Berau Coal.
Kegiatan ini bukan sekadar panen, melainkan wujud nyata kolaborasi dalam membangun kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengembangan budidaya kakao melalui sistem tumpang sari hortikultura jagung, sebuah strategi cerdas yang menggabungkan produktivitas dan keberlanjutan.
General Manager Operational Support & Relations PT Berau Coal, Cahyo Andrianto, menjelaskan, kebun Birang dibangun sejak 2022 bersama kelompok tani setempat.
Dari lahan seluas 15 hektare, perusahaan fokus mengembangkan kebun kakao sebagai komoditas utama, didukung dengan tanaman jagung dan hortikultura lain sebagai sistem tumpang sari.
“Lahan Birang ini kami nilai ideal karena tanahnya subur dan memiliki sumber air yang memadai dari pengolahan air tambang di WMP Sambarata. Jadi meskipun kemarau, tanaman tetap bisa tumbuh baik,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Selain menanam kakao, petani juga menanam jagung sebagai tanaman penaung sambil menunggu pohon kakao berbuah dalam 2-3 tahun.
Pendekatan agroforestri ini tak hanya menjaga produktivitas lahan, tapi juga memberi pendapatan tambahan bagi petani.
“Dari 15 hektare kebun kakao ini, target kami minimal bisa menghasilkan 15 ton kakao per tahun. Kami yakin kesejahteraan petani akan meningkat,” tambah Cahyo.

Menurutnya, kebun Birang kini menjadi percontohan bagi program pengembangan kakao Berau Coal. Hingga saat ini, sudah ada 22 petani pemandu yang dilatih melalui sekolah lapang untuk menjadi pelatih di kampung-kampung dampingan lainnya.
“Kami ingin Birang menjadi contoh sukses budidaya kakao. Program CSR kami kini fokus pada dua hal: pembangunan ekonomi pasca tambang dan pendidikan,” paparnya.
Dari kebun 15 hektare di Birang, harapan tumbuh bersama bibit-bibit kakao dan jagung yang tertanam menjadi saksi kemandirian dan kesejahteraan bisa tumbuh dari kerja sama dan kepedulian bersama.
“Semoga dari Birang, kesejahteraan petani Berau semakin meningkat,” ujar Cahyo.
Kepala Kampung Birang, Samsuri, menuturkan, masyarakat kini telah terbiasa menanam berbagai komoditas dalam sistem tumpang sari, seperti jagung manis, terong, timun, dan cabai.
Ia mengakui antusiasme warga tinggi, namun masih menghadapi kendala ketersediaan pupuk bersubsidi.
Meski begitu, Samsuri optimistis kerja sama dengan PT Berau Coal akan membawa hasil positif.
Ia juga menyebut, program pengembangan jagung pipil seluas 25 hektare tengah dipersiapkan di wilayah tersebut.
“Kami berterima kasih kepada PT Berau Coal yang sudah mendukung bibit dan kompos. Kami ajak petani terus bergabung agar hasilnya lebih maksimal,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Lamin, salah satu petani penerima manfaat program, mengaku terbantu dengan adanya pendampingan dan bantuan bibit, pupuk, serta pelatihan budidaya.
“Kami diajari cara menanam dan merawat kakao. Sekarang kami juga menanam jagung sebagai pelindung kakao muda. Alhamdulillah hasilnya sudah bisa menutupi kebutuhan dapur,” tuturnya penuh syukur.
Camat Gunung Tabur, Lutfi Hidayat, menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bukti nyata sinergi antara perusahaan dan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan melalui sektor pertanian.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa direplikasi di kampung lain. Program ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan transformasi ekonomi daerah,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, swasta, dan masyarakat agar pengembangan pertanian kakao dan hortikultura dapat menopang ekonomi lokal pasca tambang.
“Kami ingin petani di Gunung Tabur tak hanya bergantung pada sektor formal, tapi mampu mandiri melalui pertanian yang produktif,” tambah Lutfi.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan Berau, Mansur Tanca, menilai, langkah Berau Coal sangat tepat dalam menerapkan sistem tumpang sari.
Selain menjaga lahan tetap produktif, metode ini memberi peluang petani memperoleh pendapatan sebelum tanaman kakao berproduksi penuh.
“Sebelum kakao berbuah, petani masih bisa mendapatkan penghasilan dari tanaman jagung atau hortikultura lainnya. Ini langkah yang baik agar petani tetap aktif merawat lahannya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya diversifikasi komoditas agar petani tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman.
“Kakao pernah mencapai 2.500 hektare di Berau, kini tinggal sekitar 600 hektare. Program seperti ini bisa menghidupkan kembali kejayaan kakao,” tambahnya.
Seremoni panen jagung di Kampung Birang bukan hanya perayaan hasil bumi, tetapi juga simbol kerja sama lintas sektor.
Melalui program PPM, PT Berau Coal bersama masyarakat, pemerintah daerah, dan dinas teknis berkomitmen membangun pertanian berkelanjutan yang mendukung kesejahteraan petani serta ketahanan pangan daerah.
Dalam agenda panen jagung bersama tersebut, PT Berau Coal juga menyerahkan bantuan secara simbolis berupa infrastruktur perkebunan terdiri dari pendopo, akses jalan tani dan jembatan.
Selain itu, juga dilakukan penyerahan 10.805 bibit kakao, 124.750 bibit hortikultura, 621 tanaman intercrop, dan 54.445 unit sarana produksi pertanian. (*/Adv)
