BERAU TERKINI — Perubahan pola makan dan aktivitas selama Ramadan ternyata tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Menurut Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, secara psikologis, tubuh dan otak manusia terbiasa dengan pola makan normal setiap hari.
Ketika memasuki masa puasa, terjadi perubahan kebiasaan yang cukup signifikan, terutama dalam hal asupan makanan dan kadar glukosa dalam darah.
“Secara psikologis, otak bisa memunculkan respons seolah-olah kita sedang berada di bawah tekanan atau ancaman. Ini juga dipengaruhi kadar glukosa yang menurun. Dua hal ini yang kemudian membuat seseorang lebih mudah tersinggung atau marah, terutama saat merasa lapar,” kata Gardhika kepada Berauterkini.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut umumnya terjadi pada awal-awal Ramadan, di mana tubuh yang belum beradaptasi dengan pola baru akan memunculkan respons stres ringan.
Perubahan aktivitas harian, jam tidur, hingga ritme kerja turut memperkuat reaksi tersebut.
“Tubuh kita merasakan ada perubahan signifikan. Ketika ada gangguan kecil, responsnya bisa lebih cepat terpancing. Itu sebabnya ada istilah orang lapar jadi mudah marah,” ujarnya.
Namun, Gardhika menegaskan, kondisi ini biasanya hanya berlangsung sementara.
Seiring waktu, tubuh dan pikiran akan beradaptasi. Bahkan, jika dijalani dengan tepat, puasa dapat meningkatkan kemampuan pengendalian diri.
Ia menambahkan, perilaku terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan secara berulang.
Selama 30 hari berpuasa, seseorang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga belajar mengendalikan emosi serta hawa nafsu.
“Puasa bukan hanya soal tidak makan dan minum, tetapi bagaimana kita mengelola seluruh dorongan diri. Jika dilakukan secara konsisten selama Ramadan, maka kebiasaan baik itu bisa terbentuk dan terbawa setelahnya,” katanya.
Gardhika menegaskan, kunci utamanya adalah konsistensi.
Dengan rutin berpuasa dan membiasakan diri melakukan hal-hal positif, seseorang akan lebih mudah mengembangkan kesabaran dan kontrol diri yang lebih baik.
“Di awal mungkin terasa berat, tetapi ketika tubuh dan pikiran sudah terbiasa, justru puasa bisa menjadi latihan efektif untuk memperkuat kesehatan mental dan pengendalian emosi,” pungkasnya. (*)
