TABALAR – Saat mentari di ufuk barat baru akan menampakkan pesonanya, sejak pagi Muhammad Najib bersama para pemuda dan tokoh Kampung Tubaan, Tabalar, sudah sibuk menyiapkan perkakas untuk masuk hutan tua yang dikelola bersama pemerintah kampung.

Berbekal sepatu hutan berbahan karet, baju lengan panjang, sebilah parang lengkap dengan sarung dan sarapan, Najib, begitu dia disapa, mesti bersiap untuk masuk hutan seluas 100 hektare.

Hutan tua yang ditumbuhi pepohonan besar dan menjadi sarang bagi kehidupan satwa liar itu dipelihara dengan baik. Hutan yang menjadi sumber semangat warga kampung untuk bisa menikmati udara segar kala pagi hari.

Setidaknya, sudah lima tahun belakangan ini hutan tua tersebut diperlakukan secara lebih baik. Sela pohon kini ada tanaman bibit pohon baru yang setiap hari ditanami dan dirawat oleh para pemuda kampung.

Lima tahun tentu bukan usia hutan itu. Sebelum manusia menempati kawasan menuju kampung pesisir itu ribuan tahun lalu, telah hidup ribuan jenis tanaman dan hewan secara liar. Wujud nyata dari hutan sebagai sumber penghidupan.

Hutan lebat itu disebut sebagai ‘keramat’ oleh penduduk setempat. Sejak penduduk berbondong untuk tinggal di sekitar hutan itu, mereka sering menyampaikan cerita misteri dari hutan tua itu.

Kini, wajah hutan telah berubah sejak para kawula muda Kampung Tubaan menempuh pendidikan tinggi. Hutan itu kini berwajah lebih ramah, bahkan jadi destinasi wisata baru menuju pesisir Bumi Batiwakkal.

Najib yang lahir di Samarinda, 10 April 1998, mengaku sudah mengenal hutan tua kampung Tubaan sejak berumur dua tahun. Saat awal 2000-an, ia bersama kedua orang tuanya pindah ke kampung itu dengan alasan pekerjaan sang bapak.

“Saya umur masih sangat kecil, dua tahunan, sudah tumbuh besar di kampung itu,” kata Najib kisahkan pengalaman hidupnya.

Najib, di usianya yang masih sangat muda ini, mendapat gelar Kalpataru 2025. Gelar pohon kehidupan yang diberikan oleh Pemprov Kaltim atas kegigihan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan hutan dalam metode konservasi.

Gelar itu didapatkan Najib saat ia menghadiri pemberian penghargaan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang digelar pada Juni 2025. Penghargaan itu dia terima langsung dari Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, ditemani Kepala DLH Kaltim, Anwar Sanusi.

Dia bercerita, penghargaan yang dia terima bersama para pemuda dan tokoh Tubaan ini memiliki jalan yang panjang.

Ayahnya, Mufit, dan almarhum Ibunya, Saprah, pada 2000-an awal dapat penugasan untuk bekerja di SP 2 Lempake. Pemukiman yang diisi oleh para warga dari Pulau Jawa yang transmigrasi ke Berau pada era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Saat kecil, alumni Universitas Widyagama Samarinda angkatan 2017 ini terbiasa dengan kegiatan ayahnya yang hobi mencari ikan dan udang di sungai dan ibunya bercocok tanam bunga hias di pekarangan rumah.

Rutinitas orang tua yang selalu dia lihat hingga beranjak dewasa, melekat dalam keseharian. Dia juga selalu mendapat banyak pengetahuan lingkungan dari orang tua.

Kebiasaan itu pun tertanam dalam ingatan otak kecilnya sebagai aktivitas positif: melestarikan lingkungan. 

“Orang tua selalu ajarkan itu,” tutur Najib.

Najib kecil selalu hidup berdampingan dengan alam. Hutan dan sungai sudah menjadi tempat bermain bareng teman sebayanya.

Mandi di sungai dan bermain petak umpet di tengah permukiman transmigrasi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari anak Kampung Tubaan.

“Disitulah saya mulai jatuh cinta dengan alam,” ujar lulusan PGSD UWGM 2019 ini.

Sejak kecil pula, Najib tertarik untuk menonton konten film flora fauna yang ada di dalam program ‘National Geographic’. Saluran televisi luar negeri yang sering menayangkan keragaman makhluk hidup di muka bumi ini.

“Sampai buku National Geographic saya dibelikan juga sama orang tua,” ungkapnya.

Mulai dari Kelas Alam

Najib mengaku khawatir dengan deforestasi yang terjadi dewasa ini. Hutan di Berau luasannya sudah semakin berkurang. Hutan yang menurut dia bisa menjadi musuh ketika sudah semakin berkurang dan tak mampu membendung bencana.

Isu deforestasi ini pun dia kawal. Memastikan hutan di kampungnya tak diratakan oleh alat berat perusahaan. Hutan 100 hektare dan 2 hektare milik pribadi, kini dia jaga betul. Dia pastikan tak ada ‘besi-besi pemusnah’ yang menyalakan mesin di dalam hutannya.

Menempuh pendidikan di Samarinda, menjadi bekalnya untuk mendapat banyak peluang menambah isi otak. Pengetahuan yang telah dia dapatkan di bangku sekolah dan diskusi bersama komunitas lingkungan dijadikan pegangan hidup dalam pelestarian alam.

Dia mengaku, sejak konsen pada isu lingkungan, kini jejaringnya semakin meluas. Banyak organisasi lingkungan dan pemerintah yang memberikan semangat agar terus berbuat positif untuk lingkungan.

“Ini jadi modal saya, khususnya jejaring yang saat ini sudah terbangun,” kata Najib.

Pengetahuan itu tak mau ia simpan sendiri. Sebagai guru di SD Negeri 001 Tubaan, kini dia telah memulai program khusus yang dinamai ‘Kelas Alam’. Ruang pengetahuan lebih yang diberikan kepada muridnya yang duduk di bangku sekolah dasar.

Setiap Sabtu pagi, dia memastikan para murid masuk ke dalam hutan. Berbekal terpal dan papan tulis, duduk di bawah lebatnya hutan Tubaan, dianggap sebagai metode yang cukup untuk bisa merangsang generasi penerus yang sadar akan pentingnya kelestarian hutan.

“Sekarang masih sangat sederhana, semoga ke depan ada ruang kelas yang bisa buat anak didik saya semakin nyaman,” kata Najib.

Tak berhenti di situ, ke depan, dia juga akan membuka jejaring lebih luas lagi dalam program konservasi lingkungan. Dia ingin seluruh kawasan hutan di Berau memiliki kader yang dapat menjalankan program peduli lingkungan.

“Banyak organisasi lingkungan yang akan kami ajak kerja sama, pelestarian hutan harus meluas,” tekadnya

Dia juga mengundang seluruh kalangan untuk datang ke hutan yang dikelola para pemuda di Tubaan. Hutan yang dipastikan ketika dikunjungi tak akan membuat bosan. Bahkan, dia sudah sering menemani turis asing untuk berkeliling hutan yang saat ini masih lestari.

“Silahkan datang, kami terbuka untuk semua,” pesan dia. (*)