BERAU TERKINI – Pedagang di Berau ungkap omzet yang diterima selama menjual durian di musim durian ini.
Saat ini di Berau sedang ramai musim buah durian. Pedagang durian banyak ditemukan di sepanjang Jalan Durian 1, Tanjung Redeb, Berau.
Para pedagang durian mengatakan bahwa durian banyak peminatnya. Salah satu pedagang durian, Ahmad mengatakan bahwa peminat durian ramai dan selalu ada saja pembelinya setiap hari.
“Bagus rame aja, ada aja,” ungkapnya kepada Berauterkini.co.id, Senin (19/1/2026).
Durian yang ia jual merupakan durian dari Kalimantan Utara.
Durian yang ia jual paling murah di harga Rp 20 ribu dan yang paling mahal Rp 150 ribu bergantung pada ukuran besar dan kecilnya.
Ia menyebut omzet yang menjanjikan dari menjual durian dalam sehari.
“Nda tentu sih paling kalau dari pagi kalau pembeli bagus, Rp 8 juta sampai Rp 10 juta dapat,” ujarnya.

Pedagang lain, Farhan juga mengatakan bahwa di Berau ini peminat durian banyak sekali dan ada waktu-waktu tertentu peminat durian bertambah ramai.
“Kalau di Berau ini ya lumayan lah, lumayan banyak sih yang suka sama durian,” ujarnya.
“Kadang-kadang kalau misalnya malam minggu biasa dia rame. Kadang-kadang sih, biasa rame biasa nda,” tambahnya.
Durian yang ia jual juga mengambil dari Kalimantan Utara. Namun yang menarik, ada durian merah yang menurut Farhan itu merupakan durian hutan yang bernama Laum. “Isinya beda cara belahnya juga beda,” singkatnya.
Kisaran harga durian yang ia jual bisa menyentuh harga Rp 200 ribu yang paling mahal dan Rp 20 ribu yang paling murah.
Omzet yang ia dapatkan dalam sehari bisa mencapai Rp 5 juta, tergantung tingkat peminatan pembeli.
“Biasa tergantung pembelinya, biasanya kadang sampai Rp 5 juta sampai Rp 3 juta ya lumayan ada aja,” katanya.
Ia mengatakan musim durian ini bisa bertahan hingga bulan puasa nanti. Jika tidak sedang musim, maka durian susah didapat dan harganya cenderung lebih mahal.
“Biasa 2 bulanan lah dari ini kan awal bulan 1 mungkin sampai puasa lah,” ucapnya.

Pedagang lainnya yakni Asri lebih banyak menjual durian montong.
Menurut Asri, durian montong ini lebih mahal dibanding lokal dikarenakan berasal dari Palu, Sulawesi Tengah sehingga membutuhkan biaya transportasi lebih.
“Transportasinya yang mahal, kalau harga di sana itu ya setengah lah dari harga eceran,” ujarnya.
Meskipun begitu, peminat durian montong juga ramai, sehingga dalam sehari ia bisa mendapatkan omset hingga Rp 10 juta. “Peminatnya lumayan rame,” katanya.
Namun, peminat durian juga dilihat dari segi cuaca. Menurutnya, jika cuaca sedang panas maka pembeli juga akan semakin sedikit, karena durian buah yang panas sehingga tidak mungkin dimakan dalam kondisi cuaca panas.
“Kalau omsetnya ya tergantung cuaca, kalau pas cuacanya bagus pas orang banyak peminatnya ya omsetnya adalah di atas Rp 10 juta,” jelasnya.
“Kalau panas-panas begini malas orang makan durian,” tambahnya.
