“Alpinis sejati tidak pernah menaklukkan gunung. Mereka menaklukkan ambisi dalam diri, keraguan dalam hati, dan kelemahan dalam jiwa. Puncak hanyalah bonus dari sebuah perjalanan untuk menemukan diri sendiri.”Seno Gumira Ajidarma

Bagi Imelda Anggraini, seorang pendaki senior asal Berau, filosofi itu menjadi napas dari ekspedisi tujuh hari yang baru saja ia rampungkan. Perjalanannya melintasi tiga puncak ganas di jajaran Pegunungan Lompobattang, Sulawesi Selatan, bukanlah tentang menaklukkan alam, melainkan tentang sebuah misi suci.

Misi itu ia persembahkan untuk jiwa-jiwa kecil yang tengah berjuang dalam pertarungan hidup yang sesungguhnya.

“Sejak awal, niat saya untuk pendakian ini memang bukan untuk diri sendiri. Setiap langkah dan setiap napas di gunung ini saya persembahkan untuk memberi semangat pada adik-adik pejuang kanker di YKAKI Surabaya,” ungkap Imelda pada Senin (21/7/2025).

Di usianya yang hampir menyentuh 50 tahun, pendaki yang telah memulai petualangannya sejak 1992 ini membuktikan bahwa semangat tidak lekang oleh waktu. Ia tahu betul, pendakian kali ini menuntut lebih dari sekadar fisik.

“Pendakian lintas ini merupakan trekking yang panjang maka harus disiapkan mental ekstra, apalagi sampai sekarang belum ada pendaki wanita dalam trip organizer yang tembus sampai di lembah lohe,” jelasnya.

Tantangan mental itu ia hadapi dalam perjuangan fisik yang nyata. Hari demi hari, ia dan timnya menyusuri belantara Sulawesi Selatan yang tak kenal ampun.

“Kami tracking setiap harinya menempuh 8-9 jam perjalanan di dalam hutan yang memiliki struktur jalur akar, tanah, batu, lumut, tebing,” tutur Imelda.

Perjuangan berat itu akhirnya membuahkan hasil. Misi sucinya terbayar lunas saat ia berhasil menuntaskan ekspedisi dengan melintasi tiga puncak utama, yaitu Puncak Bulu’Baria, Puncak Lompobattang, dan Puncak Bawakaraeng yang dianggap sakral.

Tidak hanya itu, perjalanannya juga menyusuri tiga lembah memesona, Lembah Kharisma, Lembah Ramma, dan Lembah Lohe, serta melewati dua danau ikonik, Danau Slank dan Danau Tanralili.

Pencapaian ini sekaligus mencatatkan namanya sebagai perempuan pertama, dalam catatan penyelenggara perjalanannya, yang berhasil menembus jalur tersebut.

Kini, setelah menyelesaikan misinya, ia berharap semangat yang ia bawa dapat menular dan menginspirasi lebih banyak orang untuk bergerak membawa kebaikan dalam setiap petualangan.

“Saya berharap pendakian ini bisa menjadi inspirasi, bahwa gunung bisa menjadi media untuk berbagi semangat. Semoga akan lebih banyak lagi pendaki yang membawa misi mulia dalam setiap perjalanannya,” tutupnya. (*)