BERAU TERKINI — Kenaikan harga minyak goreng, terutama kategori premium, kian terasa dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data nasional, lonjakan ini dipicu oleh naiknya harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).

Tren ini mulai berdampak langsung pada daya tahan ekonomi para pedagang kecil di Kabupaten Berau yang sangat bergantung pada komoditas tersebut.

Merujuk pada data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) per 10 April 2026, harga rata-rata nasional minyak goreng premium telah menyentuh angka Rp21.578 per liter, naik sekitar 2,03 persen dalam sebulan.

Amin, pedagang sempol yang berjualan di wilayah Tanjung Redeb Berau. (Adrikni/BT)
Amin, pedagang sempol yang berjualan di wilayah Tanjung Redeb Berau. (Adrikni/BT)

Sementara itu, Minyakita rata-rata dibanderol Rp15.961 per liter, tetap berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

Kondisi ini menciptakan dilema besar bagi pedagang gorengan dan jajanan di lapangan.

Banyak dari mereka yang tidak berani menaikkan harga jual karena khawatir akan kehilangan pelanggan, meski margin keuntungan terus tergerus.

Supri, seorang pedagang ayam goreng di Berau, membenarkan biaya operasionalnya membengkak drastis. 

Setiap hari, ia membutuhkan berliter-liter minyak untuk mengisi wajan penggorengan besarnya. 

Namun, dengan harga ayam yang masih dipatok Rp8.000 per potong, ia memilih untuk bertahan meski keuntungan kini sangat tipis.

“Ya tetap harga segitu. Mau dinaikkan kan takut turun (peminatnya),” ungkap Supri, Senin (13/4/2026).

Kekhawatiran Supri bukan tanpa alasan. Ia menyebut harga satu jeriken minyak ukuran 18 liter yang biasanya tidak sampai Rp400.000, kini melonjak hingga Rp445.000.

Baginya, menaikkan harga jual adalah risiko besar yang bisa membuat pembeli setianya kabur.

“Mau dinaikkan pasti pembelinya kabur. Kalau dinaikkan kita yang bingung, untungnya tipis,” keluhnya.

Keresahan serupa juga dirasakan oleh Amin, seorang pedagang sempol.

Ia mengaku hanya bisa pasrah dan mengambil keuntungan sesedikit mungkin demi menjaga kelancaran usahanya di tengah kenaikan bahan baku yang kian tidak terkendali.

“Kadang kalau mau dinaikkan bingung, jadi paksa kita ngambilnya sedikit saja, yang penting lancar saja,” ujar Amin.

Selain minyak, Amin mengeluhkan lonjakan harga plastik kemasan yang menurutnya sudah tidak masuk akal. 

Plastik bening satu pak yang sebelumnya seharga Rp17.000 kini melompat ke angka Rp23.000. 

Begitu pula dengan cup plastik yang naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per pak.

“Kayak bukan naik ya, pindah harga ya sebetulnya. Kalau naik kan cuma Rp1.000 atau Rp2.000,” sindirnya terkait besarnya selisih harga tersebut.

Meski demikian, Amin tetap mempertahankan harga jual sempolnya di angka Rp1.000 per tusuk. 

Pantauan di lapangan menunjukkan lapaknya tetap ramai diserbu pembeli, bahkan ada yang memesan hingga Rp20.000 sekali beli.

Baginya, bertahan dengan untung sedikit lebih baik daripada kehilangan perputaran modal.

“Tetap, masih bertahan juga. Yang penting masih ada sedikit kita ambil,” pungkasnya. (*)