TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau terus mengakselerasi upaya mewujudkan lingkungan ramah anak melalui program strategis lintas sektor.

Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah, mengungkapkan, pengembangan kawasan ramah anak kini menyasar sekolah, rumah ibadah, dan ruang publik.

“Hampir setengah sekolah di Berau sudah menerapkan prinsip ramah anak. Kami juga mulai dorong rumah ibadah dan ruang publik agar lebih inklusif dan aman bagi anak-anak,” ungkap Rabiatul, Selasa (8/7/2025).

Salah satu fokus utama program tersebut adalah penguatan Sekolah Ramah Anak (SRA). Hingga kini, hampir separuh sekolah di Berau dari jenjang PAUD hingga SMA, sudah mulai menerapkan prinsip-prinsip ramah anak. 

Prinsip ramah anak itu mulai dari penyediaan fasilitas pendukung, layanan konseling, hingga upaya menciptakan lingkungan bebas dari kekerasan.

Prestasi pun telah diraih. TK Pembina Gunung Tabur dinobatkan sebagai sekolah ramah anak tingkat nasional, sekaligus menjadi rujukan pengembangan model SRA di tingkat PAUD.

“TK Pembina sudah memenuhi semua indikator sekolah ramah anak, baik dari segi fasilitas fisik maupun pendekatan holistik dalam pendidikan anak usia dini,” jelasnya.

Tak hanya sektor pendidikan, pendekatan ramah anak kini mulai diperluas ke rumah-rumah ibadah.

DPPKBP3A Berau juga mendorong agar tempat-tempat ibadah dalam menyediakan fasilitas yang mendukung kenyamanan anak, mengingat lokasi tersebut juga menjadi ruang interaksi sosial bagi mereka.

“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak merasa nyaman, tidak hanya di sekolah, tapi juga saat berada di tempat ibadah dan ruang publik,” tambah Rabiatul.

Meski progresnya positif, ia mengakui masih ada sejumlah tantangan, terutama keterbatasan anggaran dan infrastruktur.

Salah satu contohnya, ruang bermain anak yang memenuhi standar baru tersedia satu lokasi, yakni di Jalan Milono, tepat di samping Perpustakaan Daerah.

“Pelaksanaannya bertahap. Kami punya target jangka panjang, tapi tentu harus realistis dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.

Untuk memperluas cakupan, DPPKBP3A Berau akan terus mendorong penilaian terhadap lokasi-lokasi potensial sebagai kawasan ramah anak.

Aspek yang dinilai meliputi keamanan, kenyamanan, kelengkapan fasilitas, hingga inklusivitas.

“Setiap lokasi, apakah itu sekolah, rumah ibadah, atau ruang publik, harus memenuhi sejumlah indikator. Kami akan terus memberikan pendampingan agar lebih banyak titik yang bisa ditetapkan sebagai kawasan ramah anak,” tegasnya.

Rabiatul berharap seluruh elemen masyarakat dan lintas sektor dapat berkolaborasi, termasuk sektor swasta dan komunitas, dalam mewujudkan Berau sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA).

“Peran semua pihak sangat penting. Kami membuka ruang kolaborasi demi membangun lingkungan yang benar-benar berpihak pada anak,” tutupnya. (*/Adv Kominfo).