BERAU TERKINI – Rencana kunjungan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, ke Kabupaten Berau dipastikan batal.
Sedianya, Menhut dijadwalkan tiba di Bandara Kalimarau pada Kamis (18/12/2025) pukul 08.15 WITA untuk meninjau Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam serta kawasan hutan adat karst di Kecamatan Kelay.
Namun, belum ada alasan resmi terkait pembatalan mendadak tersebut.
Apalagi, saat ini fokus kementerian tengah terbagi menyusul bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, yang menempatkan kinerja kementerian di bawah sorotan publik.
Ketidakpastian agenda ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Setda Berau, Agus Susanto.
Ia menyatakan, meski persiapan telah dilakukan, seluruh rombongan kementerian batal hadir.
“Batal. Kami tidak tahu pasti alasannya apa,” ujar Agus singkat saat dikonfirmasi awak media pagi ini.
Proses pembatalan ini sempat diwarnai pergantian delegasi yang dinamis.
Awalnya, posisi Raja Juli direncanakan diganti oleh Wamenhut Rohmat Marzuki, namun kemudian dibatalkan.
Agenda sempat dialihkan kepada pejabat struktural, yakni Direktur KSG Kemenhut, Nunu Anugerah, dan Kasubdit KSG Budi M.
Sayangnya, pada larut malam, pihak protokol menerima informasi final bahwa seluruh delegasi tersebut batal terbang ke Bumi Batiwakkal.
Batalnya kunjungan ini memicu kekecewaan di tengah situasi lingkungan Berau yang kian mengkhawatirkan.
Berau saat ini tengah menghadapi ancaman krisis ekologi yang serius.
Tanpa keberpihakan pemerintah pusat dalam perlindungan kawasan hutan, risiko bencana serupa yang melanda Sumatera menghantui warga setempat.
Data menunjukkan Berau telah mengalami deforestasi yang signifikan, dengan sekitar 145 ribu hektar tutupan hutan yang kini telah gundul.
Jika curah hujan tinggi melanda dalam durasi panjang, bencana banjir besar diprediksi sulit terelakkan.
Kondisi kritis ini sebelumnya telah diulas mendalam oleh Berau Terkini Weekly bertajuk “Pembukaan Hutan Semakin Nyata—Berau Bisa Jadi Sumatera Berikutnya” yang tayang pada Minggu (14/12/2025).
Absennya pejabat berwenang dalam meninjau langsung kondisi lapangan di Kelay dianggap sebagai hilangnya momentum penting untuk mitigasi krisis lingkungan di Kalimantan Timur. (*)
