BERAU TERKINI Upaya Komunitas Tepian Kolektif di Berau menjaga ekosistem seni tetap hidup.

Di tengah modernisasi, sekelompok anak muda asal Berau memilih jalan berbeda dengan menjaga arsip seni dan budaya lewat jalur seni pertunjukan dan audiovisual.

Mereka menamakan diri Tepian Kolektif, sebuah komunitas yang lahir pada Desember 2020, berawal dari keresahan melihat ekosistem seni di Berau yang belum sehidup kota-kota besar.

“Awalnya ini kegelisahan Kak Prima,” tutur Melynda Adriani, anggota termuda di komunitas tersebut.

Bersama seniman lain seperti Primadana Afandi, Wendi Pratama, Eka Wahyuni, Azwar Ahmad, dan Melynda sendiri, Tepian Kolektif pun terbentuk.

Nama “Tepian” dipilih karena identik dengan ikon Berau sekaligus bermakna “pinggir”. Mereka ingin menjadi ruang berkumpul sekaligus mengulik isu-isu seni dan budaya yang dianggap pinggiran, hal-hal yang jarang diperhatikan, tetapi penting sebagai ilmu pengetahuan.

Karena sebagian anggota berdomisili di luar Berau, koordinasi awal dilakukan melalui rapat daring. Selain tantangan jarak, kendala lain adalah membagi waktu dengan pekerjaan utama.

“Hampir semua anggota bekerja penuh waktu, jadi membagi fokus itu tidak mudah,” ungkap Melynda.

Berbeda dengan arsip pada umumnya yang identik dengan tulisan, Tepian Kolektif memperluas makna arsip. Mereka mendokumentasikan kesenian melalui karya tari, musik, hingga audiovisual.

“Arsip itu bukan hanya catatan, tapi juga video, pertunjukan, atau musik. Semua itu bagian dari cara kami menyimpan jejak seni,” kata Melynda.

Berbagai kegiatan arsip yang telah dilakukan oleh Tepian Kolektif melalui tulisan, pertunjukan, dan audiovisual.
Berbagai kegiatan arsip yang telah dilakukan oleh Tepian Kolektif melalui tulisan, pertunjukan, dan audiovisual.(Dok. Tepian Kolektif)

Kegiatan pertama Tepian Kolektif adalah mengarsipkan karya maestro tari dan musik Banua, Aji Rashman, yang dikenal menciptakan tari Jepin Sidayang.

Pada peringatan Hari Tari Dunia 2021, Tepian Kolektif meluncurkan dokumentasi wawancara dan rekaman bersama sang maestro di kanal YouTube mereka.

“Itu penting, karena selama ini banyak tarian di Berau yang tidak pernah ditulis, berbeda dengan di Jawa atau Sumatera. Kami ingin mulai membuat catatan,” ujarnya.

Pendanaan pun menjadi tantangan tersendiri. Namun, kreativitas kembali jadi kunci. Tepian Kolektif mengakses program hibah komunitas, menyisihkan dana pribadi, hingga melakukan subsidi silang untuk menutupi kebutuhan program.

Salah satu prinsip yang dijaga Tepian Kolektif adalah menghadirkan seni sebagai ruang bermain dan berimajinasi, bukan ruang kompetisi.

Berbagai kegiatan arsip yang telah dilakukan oleh Tepian Kolektif melalui tulisan, pertunjukan, dan audiovisual.
Berbagai kegiatan arsip yang telah dilakukan oleh Tepian Kolektif melalui tulisan, pertunjukan, dan audiovisual.(Dok. Tepian Kolektif)

“Kalau di sekolah atau sanggar, seni sering dijadikan lomba. Kalau kalah, murid merasa tidak bagus. Padahal setiap karya punya nilai,” jelas Wendi anggota Tepian Kolektif.

Karena itu, Tepian Kolektif tidak pernah mengadakan lomba. Mereka lebih memilih menggelar karya, memberi ruang bagi siapa saja untuk bereksplorasi.

“Bagus atau tidak bagus, semua diapresiasi. Itu cara kami menjaga agar seni tetap jadi ruang aman,” tambah Wendi.

Komunitas ini tidak membatasi diri. Mereka juga membuka ruang riset dan karya untuk tradisi Bajau dan Dayak.

“Kami tidak mau mengotak-ngotakkan. Semua suku asli di Berau punya tradisi penting yang harus dicatat,” tambah Melynda.

Hingga kini, lebih dari 12 program besar berhasil digelar, termasuk “Tepi Layar” (pemutaran film bersama), “Menuju Masa Depan”, hingga residensi seni di Bandung, Makassar, Palu, Jogja, dan Jakarta. Salah satu kegiatan yang berkesan adalah “Eskapada Utopia” yang melibatkan pelajar SMP dan SMA.

“Awalnya mereka ragu, merasa tidak bisa melukis atau menari. Tapi karena pendekatan kami terbuka, mereka akhirnya percaya diri dan merasa berdaya. Itu dampak nyata yang kami lihat,” ungkap Melynda.

Selain karya pertunjukan, Tepian Kolektif juga membagikan hasil riset dan arsip mereka dalam bentuk tulisan, zine, dan dokumentasi digital.

Melalui Instagram, highlight, hingga website, masyarakat bisa mengakses karya maupun catatan riset mereka. Namun, komunitas ini menegaskan bahwa mereka tidak pernah mengklaim karya yang mereka arsipkan.

“Kami hanya penyambung. Misalnya tari Jepin Sidayang, tetap harus disebut itu ciptaan Aji Rasman. Kami sebatas mendistribusikan pengetahuan agar bisa diakses lebih luas,” tegas Wendi.

Berbagai kegiatan arsip yang telah dilakukan oleh Tepian Kolektif melalui tulisan, pertunjukan, dan audiovisual.
Berbagai kegiatan arsip yang telah dilakukan oleh Tepian Kolektif melalui tulisan, pertunjukan, dan audiovisual.(Dok. Tepian Kolektif)

Dalam perjalanannya, Tepian Kolektif juga sering menggandeng pemerintah daerah. Meski tidak semua program melibatkan pemerintah karena keterbatasan waktu, mereka tetap terbuka untuk kolaborasi.

Kini, di usianya hampir lima tahun, Tepian Kolektif telah menjadi ruang penting bagi anak muda untuk mengenal seni dan budaya Berau, sekaligus membuka akses pengetahuan melalui arsip.

“Kami ingin seni dan budaya di Berau tidak hanya jadi tontonan, tapi juga catatan. Supaya generasi mendatang bisa belajar dan tetap terhubung dengan akar tradisinya,” tutup Wendi.

Adapun beberapa Karya Tepian Kolektif:

-Jepan dalam Ingatan Adji Rasman (2021)
-BerauMaladdup: Mini Serial Dokumenter (2023)
-Pertunjukan Tari dan Dongeng untuk Anak (2023)
-Merayakan Rehat (2023)
-Live Documenter (2023)
-Museum of Untranslatable Stories (2023)
-Silangan Arus (2024)
-Malam Sidik Sidayang (2025)
-Eskapade Utopia (2025)

Beberapa Workshop, Forum, Kolaborasi, dan Residensi

-Sosialisasi Rawat PKN
-Abut Bajalan
-The International Symposium on Performing Arts Ecosystem – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenristek), Yogyakarta.
-Residensi Lumbung Kelana – Pekan Kebudayaan Nasional, Bandung.(*)