BERAU TERKINI – Bagi para pencinta hewan eksotis di Bumi Batiwakkal, nama Komunitas Berau Reptile dan Amphibi atau KOBRA tentu sudah tidak asing lagi.
Berdiri sejak 2009, komunitas ini telah mengalami tiga kali pergantian nama sebelum akhirnya solid dengan identitas yang sekarang.
Di bawah kepemimpinan Yanuar Irawan sejak 2016, komunitas ini menjadi rumah bagi sekitar 20 anggota, dengan belasan partisipan aktif yang rutin berkumpul.
Setiap hari Minggu pukul 16.00 WITA, para anggota KOBRA menggelar pertemuan sekaligus pertunjukan di Taman Cendana, Jalan APT Pranoto, Tanjung Redeb, untuk menyapa masyarakat.
Pembentukan komunitas ini didasari oleh keinginan para pemilik reptil untuk saling berbagi informasi dan pengalaman.
“Sama-sama satu hobi, kebetulan hewan-hewannya eksotis, kami kan sama-sama hobinya, jadi ya berkumpul di wadah komunitas ini,” ungkap Yanuar kepada Berauterkini, Sabtu (10/1/2026).
Koleksi reptil yang mereka miliki sangat beragam, mulai dari berbagai jenis ular, biawak, iguana hijau dan merah, gecko, tokek, kadal gurun, hingga kura-kura.
Sebagian besar hewan tersebut merupakan hasil penangkaran (breeding) dari komunitas di luar daerah, seperti Samarinda dan Bontang.
Namun, kini beberapa anggota KOBRA sudah berhasil melakukan pembiakan sendiri sejak menetas.
Yanuar menjelaskan, memelihara reptil sebenarnya relatif mudah karena sistem pencernaan hewan ini cenderung lambat.
Perawatan utamanya justru terletak pada penyinaran matahari yang rutin karena sifat reptil sebagai hewan berdarah dingin.
“Kadang seminggu sekali ngasih makan, kaya ular itu kan semakin besar semakin lama dia bisa sampai dua minggu sekali dikasih makan bisa dia, jadi kita enggak terlalu repot,” ujarnya.
Mengenai pakan, para anggota KOBRA memiliki cara unik untuk menekan biaya.
Mengingat harga tikus putih yang mencapai Rp15 ribu per ekor, mereka melatih hewan peliharaan untuk mengonsumsi pakan yang lebih ekonomis, namun tetap bergizi.
“Jadi kami latih dari awalnya dia makannya harus hewan yang hidup, kemudian kami kasih makan yang hewan mati, contohnya kayak kasih kepala ayam aja mau dia,” jelas Yanuar.
Terkait aspek legalitas dan keamanan, KOBRA sangat selektif dalam memilih peliharaan.
Mereka rutin memantau daftar hewan yang dilindungi agar tidak terjadi pelanggaran hukum.
“Kami kadang monitor juga kan monitor list-list yang ini hewan-hewan yang dilindungi, ya itu kadang kalau ada ‘oh ini dilindungi’ ya enggak jadi kami beli, gitu aja sih,” tambahnya.
Meski risiko tergigit atau tercakar adalah hal biasa bagi mereka, Yanuar menekankan pentingnya menghindari pemeliharaan hewan berbisa demi keselamatan nyawa.
Selain menjadi ajang berkumpul, KOBRA juga aktif melakukan edukasi kepada pengunjung taman, hingga memenuhi undangan sekolah maupun instansi.
“Nanti ada pertanyaan apa bisa kita jawab tentang seputar hewan reptil,” ucapnya singkat.
Bagi masyarakat yang berminat bergabung, syarat utamanya adalah memiliki hewan peliharaan dan komitmen untuk rajin menghadiri pertemuan mingguan.
Melalui konsistensi ini, Yanuar berharap komunitasnya dapat terus tumbuh dan memberikan dampak positif.
“Kalau di kami harapannya semakin bisa berkembang banyak anggota dan juga bisa dikenal di masyarakat Berau maupun luar,” pungkasnya. (*)
