BERAU TERKINI – Mengenal Hikari Berau, komunitas cosplayer sekaligus wadah bagi pecinta pop culture Jepang.
Komunitas Hikari Berau merupakan Komunitas Cosplay Pop Culture Jepang yang awalnya terbentuk dari 5 orang saja.
Pendiri Komunitas Hikari Berau, Hery Fitrah Jayadi menjelaskan, awal mula terbentuknya komunitas ini.
Menurut Hery Fitrah Jayadi, ide pembentukan komunitas terbentuk setelah tampil di Local Pride Fest.
“Kami Tampil di Lope Fest, jadi dulu awalnya kan cuma berlima ya, habis tampil di acara Lope Fest itu tadi kepikiran buat kayanya dibikin komunitas deh,” ungkapnya kepada Berauterkini.co.id.
Ia menambahkan jika pihaknya ingin membuat wadah bagi pecinta anime atau yang familiar dengan budaya pop atau pop culture Jepang di Berau.
Menurutnya, sebelum ada komunitas ini, cosplayer di Berau belum berani tampil di publik melainkan hanya lewat sosial media saja. Oleh karena itu, mereka membentuk komunitas ini sebagai wadah agar ada tempat berkumpul.

“Jadi kemarin tuh ya visinya kita ngebentuk itu biar membiasakan di Berau ini ada familiar sama budaya-budaya pop culture Jepang, salah satunya adalah cosplay,” jelasnya.
Komunitas ini berdiri sejak 11 November lalu dengan jumlah anggota kurang lebih 60 orang.
Ia mengatakan jika di komunitas ini tidak mengharuskan mereka semua untuk cosplay.
“Jadi semua yang tadi saya 60 orang itu enggak cosplay semua ada beberapa yang kaya suka foto,” ujarnya.
Alasan utama komunitas ini terbentuk untuk menjadi wadah bagi pecinta cosplay, serta ingin agar Berau ini terbiasa dengan pop culture utamanya dari Jepang.
“Jadi Itu sih kalau untuk niat utamanya, jadi kalau ada yang cosplay ya mungkin udah saatnya mereka gak cuma simpan untuk pribadi kan tapi bisa di komunitas kita,” jelasnya.
Selain cosplay, mereka juga terkadang mengadakan acara lain seperti gathering komunitas yang bertujuan berkumpul untuk bersenang-senang bersama.
Komunitas ini mempunyai dua agenda rutin, yakni gathering cosplay yang diadakan dua bulan sekali dan gathering komunitas yang diadakan tiap bulannya.
“Ada yang kayak dadakan, kadang kan itu kan di grup cukup rame nih, jadi kayak ‘eh suntuk nih ayo kita bakar-bakar’” katanya.
“Kalau saya jujur apa ya kaya senang aja ngeliat orang kumpul gitu. Itu kan di Berau jarang banget Jadi termasuk cosplay ini juga biasakan di Berau yang kayak gitu,” ucapnya.

Ia mengharapkan ke depannya komunitas ini bisa tetap solid, meminimalisir hal yang bisa menimbulkan stigma negatif, menyebarkan afirmasi positif, dan bisa membuat event sendiri.
“Harapannya komunitasnya besar, solid, terus kalau bisa tetap menyebarkan hal-hal yang positif,” ujarnya.
Salah satu cosplayer, Jiso mengungkapkan, ia senang dengan adanya komunitas ini, karena cosplay baginya merupakan cara untuk mengapresiasi diri setelah kegiatan sehari-hari yang membuat lelah.
Cosplay merupakan hiburan baginya, karena bertemu dengan banyak orang yang tentunya memiliki peminatan yang sama.
“Ngumpul sama mereka seneng banget, apalagi sambil cosplay mengekspresikan diri tuh hal yang sangatlah bebas yang bikin saya bahagia banget,” ungkapnya.
“Makanya semenjak bahasanya ada wadah di Berau ini itu saya seneng banget, saya pasti nantikan banget itu kalau misalnya ada agenda Lagi,” tutupnya.
