BERAU TERKINI – Sulap sering kali dianggap sebagai hal yang tabu atau berkaitan dengan klenik bagi sebagian orang.
Namun, bagi komunitas Berau Future Magic (BFM), sulap adalah sebuah seni pertunjukan murni yang memadukan ketangkasan tangan, psikologi, dan dedikasi tinggi untuk dipelajari.
BFM merupakan wadah sulap pertama di Berau yang menyatukan berbagai aliran, mulai dari mentalis atau permainan pikiran, hipnotis, hingga badut sulap yang menghibur.
Berawal dari keresahan para pencinta sulap lokal yang merasa seni ini kurang terekspos, dua komunitas berbeda akhirnya sepakat melebur menjadi satu pada 2019.
“Dulu kami sebenarnya beda komunitas. Karena punya hobi dan tujuan yang sama, akhirnya kami membentuk Berau Future Magic,” ujar salah satu punggawa BFM, Dery, kepada Berauterkini, Sabtu (24/1/2026).

Perjalanan para pesulap ini tidaklah instan. Di masa awal, akses mempelajari trik sulap sangat terbatas.
Mereka tidak hanya mengandalkan video di internet, tetapi harus membedah buku-buku teknik sulap hingga mengikuti lecture atau seminar privat yang tidak bisa diakses sembarang orang.
“Kami belajar lewat lecture yang bersifat privat. Tidak semua orang bisa melihatnya di YouTube, jadi benar-benar eksklusif,” tambah Dery.
Kini, untuk memperkenalkan diri ke publik, BFM mulai rutin melakukan busking atau pertunjukan jalanan di taman-taman kota setiap Minggu sore.
“Kami mencoba hadir di tempat keramaian. Harapannya ke depan ini bisa menjadi agenda rutin setiap minggu agar masyarakat lebih mengenal sulap,” jelasnya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi BFM adalah stigma masyarakat yang kerap menuduh mereka menggunakan bantuan jin atau hal gaib.
Dery menegaskan, setiap keajaiban yang mereka tampilkan di atas panggung murni hasil latihan yang tekun.
“Bagi kami, sulap itu seni yang bisa dipelajari. Sering sekali orang bilang ‘wah pakai jin nih’, padahal kami tidak pernah menggunakan hal-hal seperti itu,” tegasnya.
Karena sifatnya yang rahasia, BFM sangat selektif dalam membagikan ilmu. Sebab, rahasia sebuah trik adalah aset berharga seorang pesulap.
“Kalau kami beritahu rahasianya kepada orang yang hanya penasaran, lalu ia membocorkannya, maka trik itu tidak bisa kami mainkan lagi,” ungkap Dery.
Sementara itu, anggota BFM lainnya, Aji Adi Saputra, menceritakan, nama komunitas mereka awalnya merupakan tema dari sebuah acara yang mereka gelar.
Meski peminat sulap di Berau cukup banyak, Aji menyayangkan minimnya konsistensi dari para peminat baru.
“Banyak yang tertarik saat melihat pertunjukan, tapi begitu diajarkan triknya, mereka merasa puas dan tidak mau mendalami lagi. Kami sulit mencari talenta yang benar-benar mau serius,” kata Aji yang sudah mempelajari sulap sejak 2009 ini.
Saat ini, BFM memiliki 9 anggota, namun hanya 4 orang yang aktif mengisi acara karena keterbatasan waktu dan kesibukan pekerjaan masing-masing.
Untuk urusan peralatan, mereka harus memesan dari luar Kalimantan, bahkan membuat alatnya sendiri secara manual, karena kelangkaan toko sulap di wilayah lokal.
Meskipun selektif dalam menjaga rahasia trik, BFM tetap membuka pintu bagi siapa pun yang ingin bergabung tanpa batasan umur maupun gender.
Syarat utamanya bukan sekadar rasa penasaran, melainkan niat untuk belajar, berkumpul, dan tampil di depan publik.
“Kami tidak selamanya akan main sulap, kami butuh regenerasi. Siapa pun yang mau belajar akan kami seleksi, namun kami tidak akan mempersulit,” ungkap Aji.
Melalui BFM, para pesulap ini berharap seni ilusi di Berau bisa terus tumbuh dan suatu saat nanti mereka bisa menyelenggarakan acara sulap berskala besar yang mampu memukau masyarakat lebih luas. (*)
