BERAU TERKINI – Penanganan stunting di Provinsi Kalimantan Timur tetap menjadi prioritas utama meski daerah menghadapi tantangan fiskal. Pemerintah memastikan alokasi anggaran untuk isu kesehatan ini tidak akan terganggu oleh pemangkasan dana bagi hasil.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menegaskan hal tersebut dalam sebuah dialog publik yang digelar di Studio TVRI Kaltim. Acara bertema penguatan intervensi penanganan stunting ini berlangsung pada Senin (24/11/2025).

Seno menjamin program strategis ini telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD. Alokasi anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk sektor ini justru dipastikan terus bertambah.

Kebijakan ini diambil lantaran angka prevalensi stunting di Benua Etam masih tergolong tinggi. Data tahun 2024 menunjukkan angka 22,2 persen yang masih berada di atas ambang batas organisasi kesehatan dunia.

Fokus Seribu Hari Pertama

Pemerintah provinsi kini fokus pada intervensi seribu hari pertama kehidupan. Sasaran utamanya adalah ibu hamil dan anak usia nol hingga sebelas bulan yang masuk kategori rawan.

Langkah konkret meliputi pemeriksaan dini bagi ibu hamil untuk mendeteksi risiko kekurangan energi kronis. Pemberian makanan tambahan dan vitamin juga terus disalurkan melalui instansi teknis terkait kepada ibu menyusui.

Duplikasi Strategi Sukses

Seno Aji juga mendorong duplikasi metode edukasi yang sukses diterapkan di Kutai Kartanegara dan Bontang. Koordinasi berkala dengan pemerintah kabupaten dan kota terus dilakukan untuk memantau progres penurunan kasus setiap bulan.

Ia menekankan perlunya kerja keras bersama agar target penurunan angka stunting dapat tercapai signifikan pada tahun depan.

“Kaltim 22,2 persen di tahun 2024, artinya perlu penanganan serius sehingga setidaknya prevalensi stunting di tahun depan bisa turun signifikan dalam setahun,” tegas Seno Aji. (Ftr/Adv/Diskominfo Kaltim)