BERAU TERKINI – Kementerian Agama menginstruksikan pengelola masjid di seluruh Indonesia untuk menghadirkan program “Masjid Ramah Pemudik”.
Dalam rapat pimpinan di Jakarta, Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menyatakan, seluruh program Ramadan tahun ini dirancang dalam bingkai Joyful Ramadan Mubarak.
Sebuah konsep Ramadan yang menggembirakan, inklusif, dan memberikan manfaat langsung bagi umat.
Program ini menitikberatkan pada penguatan layanan masjid sebagai pusat pelayanan keagamaan yang mudah diakses dan ramah bagi masyarakat.
Abu menekankan, Ramadan harus dijadikan momentum pelayanan di mana negara hadir melalui fasilitas yang memadai dan inklusif.
“Ramadan harus kita jadikan momentum pelayanan. Masyarakat harus merasakan negara hadir melalui layanan keagamaan yang mudah diakses, ramah, dan memberi kemudahan,” ujar Abu.

Salah satu target utama program ini adalah penyediaan 6.859 masjid sebagai titik singgah arus mudik dan balik.
Fasilitas yang diharapkan tersedia meliputi operasional 24 jam, toilet bersih, tempat istirahat, pengisian daya gawai, area parkir, hingga takjil gratis bagi para musafir.
Menanggapi imbauan tersebut, Kabupaten Berau sebenarnya telah memiliki pionir masjid ramah bagi pemudik dan musafir, yakni Masjid At-Taqwa yang berlokasi di Jalan AKB Sanipah 1, Kelurahan Karang Ambun.
Letaknya yang strategis di jantung kota menjadikan masjid ini titik transit ideal bagi wisatawan atau warga yang hendak menyeberang menuju wilayah pesisir Berau.
Ketua DKM Masjid At-Taqwa, Shamsul Ma’ruf, menjelaskan, pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan maksimal bagi jamaah dari luar daerah yang membutuhkan tempat beristirahat, namun memiliki keterbatasan biaya untuk menginap di hotel atau tidak memiliki kerabat di Tanjung Redeb.
“Fasilitas penginapan gratis dan makan gratis bagi jamaah yang memang dianggap membutuhkan dan menjadi keinginan untuk bisa memberikan fasilitas kepada jamaah yang berada dari daerah luar,” ungkap Shamsul kepada Berauterkini, Rabu (11/3/2026).
Demi menjaga keamanan dan kenyamanan bersama, setiap musafir yang hendak menginap diwajibkan melapor kepada petugas masjid untuk kemudian diteruskan laporannya kepada ketua RT setempat.
Meski demikian, program penginapan ini direncanakan baru akan dibuka secara intensif pada bulan Syawal mendatang, mengingat saat ini pengurus masih fokus sepenuhnya pada rangkaian ibadah di bulan Ramadan.
“Setelah lebaran kami sudah mulai melakukan tahapan-tahapan program yang sudah diatur, karena kami fokus dulu di pelaksanaan bulan suci Ramadan ini, sehingga kami belum melaksanakan untuk langkah berikutnya,” jelasnya.
Terkait kapasitas, Masjid At-Taqwa akan membatasi jumlah tamu hingga 10 orang per hari guna memastikan fasilitas yang tersedia tetap mencukupi dan pelayanan tetap berkualitas.
Pembatasan ini dilakukan agar tidak menimbulkan kekecewaan bagi jamaah yang datang.
“Kita batasi sampai 10, tapi saya rasa yang menginap itu paling sehari semalam sudah keluar lagi. Kalau ada puncak-puncaknya biasanya di hari Ahad,” tutupnya. (*)
