BERAU TERKINI – Kasus dugaan kelalaian yang menyebabkan seorang bayi meninggal dunia dan ibunya dalam kondisi kritis di Puskesmas Gunung Tabur berbuntut panjang.

Rio, ayah sang bayi, melayangkan keberatan dan protes keras kepada manajemen Puskesmas Gunung Tabur.

Dia menilai, petugas puskesmas lalai dalam melakukan observasi terhadap kondisi istrinya yang saat itu mengalami pendarahan dan berada dalam keadaan lemah.

Menurutnya, penanganan yang diberikan sangat lambat dan tidak maksimal hingga berujung pada meninggalnya janin dalam kandungan istrinya.

“Sangat keberatan. Kami menuntut pihak puskesmas agar bertanggung jawab. Memulihkan kembali mental istri saya dan menuntut keadilan atas apa yang dialami istri dan anak kami,” jelasnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan menempuh jalur hukum, Rio mengaku masih mempertimbangkannya bersama keluarga besar. 

Saat ini, fokus utamanya adalah pemulihan kondisi fisik dan mental sang istri yang masih sangat terpukul akibat peristiwa tersebut.

“Untuk melapor ke aparat penegak hukum, saya belum bisa menjawab. Kami masih menunggu kesepakatan keluarga. Fokus kami sekarang kesembuhan total istri saya,” ujarnya.

Rio juga menyoroti minimnya empati dari pihak puskesmas setelah kasus tersebut menjadi perbincangan luas di masyarakat. 

Ia juga membantah jika pihak puskesmas mengaku tidak mengetahui secara detail kejadian yang menimpa keluarganya.

“Bohong kalau mereka bilang tidak tahu apa yang kami alami. Ada dua orang perawat puskesmas yang ikut mendampingi sampai ke UGD,” jelasnya.

Dampak dari kejadian tersebut, kata Rio, masih sangat dirasakan oleh istrinya hingga kini.

Sang istri disebut mengalami trauma berat, sering terbangun karena mimpi buruk, dan kerap terlihat kaget tanpa sebab yang jelas. 

Kondisi kesehatannya pun belum pulih sepenuhnya dengan kadar hemoglobin (HB) yang masih berada di angka 6,8.

“Dia juga sering menangis kalau melihat atau mendengar suara bayi, karena teringat almarhum anak kami,” terangnya.

Rio turut menceritakan kronologi sebelum musibah itu terjadi. 

Menurutnya, saat pertama kali dibawa ke puskesmas, istrinya belum menunjukkan tanda-tanda akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai, meski kondisinya lemah dan mengalami pendarahan. 

Rujukan baru dilakukan setelah dirinya dan keluarga datang lalu mendesak agar kondisi sang istri diperhatikan lebih serius.

“Mungkin kalau saya dan keluarga tidak datang ke puskesmas, mereka hanya tutup mata. Seolah-olah meninggalnya anak kami adalah hal yang wajar, bukan akibat kelalaian mereka,” pungkasnya. (*)