BERAU TERKINI – Maraknya kasus kekerasan antara murid dan guru yang belakangan viral di media sosial hingga berujung ke ranah hukum menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan Kabupaten Berau.
Fenomena tersebut dinilai sebagai peringatan penting bagi dunia pendidikan untuk segera beradaptasi dengan dinamika karakter peserta didik saat ini.
Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, mengatakan, konflik antara murid dan guru tidak boleh dipandang sepele.
Perubahan zaman yang cepat, ditambah pengaruh media digital, membuat karakter siswa kini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Jika tidak diimbangi dengan pendekatan yang tepat, kondisi ini dikhawatirkan dapat menjadi “bom waktu” di lingkungan sekolah.
“Setiap guru harus terus belajar dan memahami karakter muridnya,” kata Mardiatul, Senin (26/1/2026).
Tak hanya itu, guru pun dituntut adaptif dan mampu menyesuaikan diri dengan sifat, kondisi psikologis siswa, lingkungan sekolah, hingga lingkungan tempat tinggal mereka.
Menurutnya, sikap adaptif bukan hanya tuntutan profesionalisme, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Untuk itu, dia menekankan, para guru dapat membangun komunikasi yang baik dengan siswa.
“Komunikasi itu bukan hanya soal kata-kata, tapi juga cara bersikap dan berperilaku. Cara kita memperlakukan anak-anak itu juga bentuk komunikasi,” paparnya.
Selain pendekatan komunikasi, Dinas Pendidikan Berau juga mendorong penguatan pendidikan karakter di sekolah.
Salah satu cara yang dinilai efektif adalah melalui pembiasaan nilai-nilai keagamaan dan moral, yang diterapkan sesuai dengan keyakinan masing-masing peserta didik.
“Banyak sekolah sudah menerapkan pembiasaan seperti sholat dhuha. Itu bukan semata pelajaran agama, tapi bagian dari pembentukan karakter,” paparnya.
“Untuk siswa non-muslim tentu ada pendekatan dan caranya masing-masing,” tambahnya.
Terkait kasus guru yang berhadapan dengan hukum akibat tindakan disiplin terhadap siswa, Mardiatul menyebutkan sejauh ini belum ada kasus serupa terjadi di Berau.
Namun, langkah pencegahan terus dilakukan melalui pembinaan dan imbauan kepada guru agar mengedepankan komunikasi sebelum mengambil tindakan tegas.
“Pencegahan itu penting. Kami antisipasi sejak awal agar persoalan kecil tidak berkembang menjadi masalah besar,” katanya.
Ia juga menyoroti isu perundungan di sekolah serta dugaan adanya oknum guru yang memvideo siswi saat sedang praktek yang mengarah pada tindak asusila.
Dia mengatakan, kedua hal itu langsung ditangani dan diselesaikan dengan pemberian sanksi.
“Saya paling tidak suka dengan pelecehan dan bullying, karena ini menyangkut masa depan anak-anak. Setiap laporan, sekecil apa pun, pasti kami proses,” tegasnya.
Untuk mencegah dan menekan kasus serupa, Dinas Pendidikan Berau terus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Mulai dari program jaksa masuk sekolah, polisi masuk sekolah, hingga kerja sama dengan instansi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak melalui konsep sekolah ramah anak.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menggeneralisasi seluruh dunia pendidikan hanya karena satu kasus.
Menurutnya, setiap individu memiliki karakter berbeda. Tidak adil jika kesalahan satu oknum dijadikan stigma bagi semua guru atau sekolah.
“Jangan karena satu kasus, lalu semua disamakan. Di sekolah itu manusia, pasti ada baik dan buruknya,” pungkasnya. (*)
