TANJUNG REDEB – Puncak Maratua Jazz and Dive Fiesta berlangsung meriah di bawah pohon sukun, tepi pantai Teluk Harapan, Maratua, Sabtu (28/6/2025) malam.
Deddy Dhukun, Keljo, Wan Setiawan, Risalah Band, Kakaban Groove menyihir ratusan penonton, dengan lantunan musik jazz yang menghanyutkan.
Tak kalah dengan pesta musik jazz level nasional, Maratua Jazz tahun ini mampu mengembalikan minat segala golongan usia untuk lebih intim menikmati musik asal benua biru, eropa.
Seolah sangat akrab dengan aliran musik ini, para penonton tenang dan menikmati lantunan musik jazz yang dibawakan Deddy Dhukun malam itu.
Mengenakan, batik khas Berau, Deddy aktif berinteraksi dengan para penonton. Sesekali iya menyodorkan mikrofon, memberikan kesempatan bernyanyi secara dadakan.
Saat musik pop dan genre musik lainnya dimainkan, hampir semua penonton bisa menyanyi bersama dengan para pengisi panggung berukuran 5×4 itu.
Semua aliran musik dapat porsi setara, kendati aliran musik jazz tetap paling dominan.
Para tamu kehormatan pun larut dalam kesyahduan musik yang bersahut dengan riuh penonton malam itu.
Termasuk Wabup Berau Gamalis, dengan jujur mengaku sangat mengagumi Deddy Dhukun. Ia hadir sekira 5 jam sebelum malam puncak digelar.
Dia mengatakan, even ini menjadi pengingat dirinya saat masih sangat enerjik waktu muda dulu.
Lantunan jazz dari Deddy, membuat dirinya kembali bernostalgia dengan semangat yang dia harapkan terus terjaga sampai saat ini.
“Kita harus akrab dengan jazz, ini aliran musik yang bisa kita buat lebih merakyat,” sebutnya.

Orang nomor dua di Bumi Batiwakkal ini berharap even jazz ini terus lestari. Mendorong Maratua menjadi kawasan wisata yang mengundang lebih luas orang untuk berkunjung.
“Soal dampak, tentu sangat berdampak. Kita harus buat Maratua eksis lewat even seperti ini,” sebutnya.
Ke depan, harus ada agenda serius dalam mengawal program pengembangan Maratua. Mengingat dukungan itu telah dilaksanakan pada tataran pemangku kepentingan mulai daerah, hingga pusat.
Konsistensi dalam mengawal ini, tentu dibuktikan dengan pemberian anggaran oleh pemerintah daerah. Dengan mengedepankan inovasi dan kreativitas semua pihak dalam mengelola event di Maratua.
“Dunia harus kenal Maratua, itu pekerjaan kita bersama ke depan,” kata dia.
Dukungan itu, disambut sukacita Juhriansyah. Sebagai penggagas MJDF, menurutnya diperlukan sikap konsisten dan serius semua pihak dalam menjalankan event tahunan tersebut.
“Siapapun yang memberikan dukungan, itu akan jadi bahan bakar semangat kami ke depan,” tegasnya.
Dia menyatakan, kolaborasi menjadi kunci utama dalam eksekusi Maratua Jazz ke depan. Sehingga dia berharap, akan ada lebih banyak pihak yang menjadi partner serius MJDF.
“2026, kita semua akan berperan besar dalam kisah sukses MJDF,” harap dia.

Semangat itu pun disambut Agus Setiawan. Salah satu penggagas MJDF dan berlatar belakang sebagai jurnalis Warta Jazz, kerja ke depan akan banyak tantangan.
Termasuk dalam hal, mempersiapkan pesta yang bisa dinikmati semua kalangan, dalam satu panggung MJDF tahun depan.
“Tugas kita hanya memastikan setiap wisatawan mau datang ke Maratua, menikmati jazz,” sebutnya.
Dia menegaskan, agenda promosi MJDF 2026 menjadi kunci. Demi mendatangkan banyak turis asing ke Bumi Batiwakkal.
Wisata asing yang diharapkan memberikan devisa besar untuk negara, melalui langkah besar yang dilakukan punggawa MJDF ke depan.
“Rusia, Belanda, Jerman, Inggris, China, Jepang, semua negara yang harus tau kalau ada Jazz di pulau terluar Indonesia ini,” sebutnya.
Dia sadar, gelaran tahun ini masih sangat banyak evaluasi dan kelemahan yang mesti diperbaiki.
Namun, kritik dan saran itu akan menjadi pemicu semangatnya untuk lebih banyak mengambil peran dalam pertumbuhan Maratua ke depan.
“Ini cara kami memperkenalkan Maratua di mata dunia, dunia jazz memang seperti itu,” sebutnya.
Di samping itu, Maratua Jazz tahun ini memiliki banyak hal yang baru.
Kolaborasi yang menciptakan Maratua Jazz pada tahun ini masih bisa eksis.
Sebab, kini Maratua jazz mendapatkan banyak kesempatan untuk menguatkan program ke depan.
Dukungan data konkret, melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, akan menjadi tolok ukur tindakan MJDF pada tahun selanjutnya.

Tahun ini, Kemenpar disebut telah mengutus tim khusus untuk menghitung jumlah produksi sampah plastik, emisi gas karbon, data pengunjung, hingga kebutuhan data pendukung lainnya dalam satu gelaran event.
Menurutnya, langkah strategis akan tercipta dalam rangkaian persiapan MJDF tahun depan. Dengan membuat komitmen Suistenable Tourism dapat tercipta dalam gelaran tersebut.
“Ayo kolaborasi, kita orang Berau ada tuan rumah yang harus membuat nyaman para wisatawan,” kata dia.
Malam puncak itu pun ditutup dengan dua lagu hits Deddy Dhukun, Hapus Air Mata, dan Orang Ketiga.
Diketahui, para bintang tamu akan bertolak dari Maratua, pada Minggu (29/6/2025) esok. Jamuan makan malam oleh pemangku kebijakan Bumi Batiwakkal akan menjadi penutup aktivitas para artis selama 3 hari lebih di Berau. (*)
