BERAU TERKINI – Keresahan para pelaku industri kreatif di Berau yang merasa jalur wisata mereka “tidak dilirik” wisatawan saat menuju Pulau Derawan, kini terjawab dengan sebuah inovasi segar.

Empat mahasiswa Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, yakni Supriyani, Yayang Anggrenesia, Aji Kusumah Ramdhani, dan Zahara Rahmawati Fitriana, merumuskan formula baru: paket wisata full day trip menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Pulau Derawan via Pelabuhan Tanjung Batu.

Paket ini dirancang untuk memastikan setiap titik wisata unik di jalur menuju Tanjung Batu, seperti mutiara tersembunyi, dapat disinggahi dan dinikmati wisatawan.

Supriyani selaku Ketua Tim sekaligus Staf Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, menjelaskan, terobosan ini bertujuan menjaga keberlangsungan iklim industri wisata di sepanjang koridor menuju Derawan.

“Dari paket ini, destinasi wisata yang unik dan menarik bisa dikunjungi dalam satu kali perjalanan. Kunci keberhasilannya ada pada peran multisektor yang mengambil peran strategisnya,” kata Yani.

Selain itu, peningkatan kapasitas dan peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menjadi faktor kunci untuk memastikan setiap wisatawan menikmati perjalanan. 

Peran pemerintah, masyarakat lokal, akademisi, hingga media massa dan influencer juga memegang peran penting dalam membantu roda ekonomi tetap berputar sesuai target. 

“Ini hanya akan dapat hidup ketika semua sektor itu mengambil peran strategisnya,” ungkap dia. 

Pilot Trip Menuju Tanjung Batu

Pada Rabu (12/11/2025), empat mahasiswa tersebut bersama para tamu perjalanan dari kalangan praktisi pariwisata hingga awak media melakukan uji coba atau pilot trip paket wisata ke Pulau Derawan. 

Perjalanan dimulai dari Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau. Peserta kemudian bertolak ke Museum Batiwakkal yang terletak di Kelurahan Gunung Tabur untuk menikmati wisata sejarah kerajaan selama 30 menit. 

Di museum itu, peserta didampingi Pokdarwis Gunung Tabur dan penjaga museum menjelaskan asal-usul berdirinya Berau sejak zaman kerajaan. Mereka juga diajak menyaksikan berbagai macam benda sejarah kerajaan. 

Puas berkeliling di empat titik museum yang menyimpan artefak kerajaan, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju workshop dan galeri Putri Batik Maluang. Tempat wisata edukasi pembuatan batik tulis, cetak, dan modern. Perjalanannya tak lebih dari setengah jam. 

Di tempat itu, para peserta trip diberikan pengalaman membatik secara langsung dengan pendampingan dari owner Putri Batik Maluang, Putri Arofah. Setelahnya, peserta diajak untuk masuk ke galeri dan dipersilakan berbelanja batik yang khas dengan corak air tersebut. 

Peserta kemudian melanjutkan perjalanan menuju Rest Area Parisau Kopi. Di sini terdapat pengolahan kopi Liberika khas Berau hingga menikmati langsung madu kelulut dari sarangnya. 

Kopi liberika pun dapat dijadikan pilihan oleh-oleh dalam bentuk biji kopi maupun bubuk siap seduh. Harganya berkisar Rp80-95 ribu per bungkus. 

Perjalanan pun berlanjut menuju Tanjung Batu. Tepatnya ke Gedung ITC Center yang baru diresmikan Bupati Berau Sri Juniarsih pada pertengahan 2025. Di tempat itu, peserta disajikan tarian tradisional Dalling yang dibawakan Sanggar Seni Linggisan. 

Di tempat ini, banyak yang dapat dinikmati wisatawan, seperti menggali informasi kekayaan wisata bahari di Berau. Dengan pendampingan Pokdarwis Lahatku Janti, wisatawan akan kenyang dengan informasi akurat terkait keandalan wisata di pesisir Berau tersebut. 

Puas menikmati pembangunan di pintu masuk menuju Pulau Derawan, peserta diajak mengunjungi rumah produksi Batik Sidayang. Pembatik tulis yang sudah malang melintang di industri batik Bumi Batiwakkal. Wisatawan dapat mencoba dan mengulik langsung informasi terkait proses pembatikan. 

Setelahnya, peserta menuju destinasi pamungkas. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam 45 menit, peserta diajak menuju Kampung Batu-Batu yang terkenal dengan wisata susur sungainya. 

Keragaman satwa liar, seperti bekantan hingga kelelawar, menjadi atraksi yang tak bisa dilupakan. Ditambah dengan momen menikmati matahari tenggelam yang berada persis di depan perahu saat menyusuri terusan Sungai Kelay tersebut. 

Setelah seharian berkeliling, saat matahari telah tenggelam, wisatawan akan diajak menikmati kuliner udang galah langsung di tepi sungai. Destinasi itu pun sudah siap dengan tempat yang rapi setelah dibangun Disbudpar Berau pada tahun lalu. 

Jika ditotal, perjalanan full day trip itu menghabiskan waktu selama 13 jam. 

Serap Kritik dan Saran

Paket wisata yang dikembangkan mahasiswa Poltekpar NHI Bandung itu masih dalam proses pengembangan dan evaluasi. Belum ditetapkan tarif dalam perjalanan yang sarat pengalaman menarik tersebut. 

Namun dalam pematangannya, para mahasiswa tersebut mengundang praktisi, pemerintah, pengelola bandara, hingga awak media untuk memberikan masukan dari pengalaman perjalanan yang didapatkan saat pilot trip tersebut. 

Dalam pertemuan selama lima jam itu, terdapat banyak masukan dari berbagai pihak. Di antaranya terkait kesiapan paket yang mesti memberikan informasi detail pengalaman yang akan dirasakan wisatawan ketika mengambil paket tersebut. 

Lalu, mematangkan infrastruktur menuju destinasi wisata yang saat ini sedang dibangun oleh pemerintah. 

Kemudian, dukungan jaringan informasi dan agenda promosi pariwisata yang dapat melibatkan media massa hingga influencer. 

Pematangan SDM juga menjadi agenda penting yang mesti dilakukan. Sebab, Pokdarwis dan kelompok masyarakat lainnya, mesti memahami bila industri pariwisata dapat dibangun dengan semangat kolaborasi lintas sektor. 

Termasuk pembangunan sarana infrastruktur telekomunikasi yang sangat dibutuhkan dalam industri pariwisata untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. 

Yani menyebut, seluruh dukungan tersebut merupakan rekomendasi yang akan diteruskan kepada setiap pihak terkait, khususnya pemerintah daerah hingga pokdarwis di setiap titik destinasi yang dikunjungi dalam paket wisata tersebut. 

“Semoga bisa bermanfaat untuk pengembangan destinasi wisata di Berau,” harapnya. (*)