TANJUNG REDEB – Ajang Lomba Desa dan Kelurahan tingkat nasional tahun ini bukan sekadar kompetisi adu prestasi bagi Kampung Dumaring. 

Perwakilan dari Kabupaten Berau ini berhasil mengubah panggung kompetisi menjadi arena strategis untuk memikat pasar yang lebih luas bagi produk UMKM unggulan mereka.

Kehadiran produk-produk lokal inilah yang menjadi salah satu nilai tambah utama dalam penilaian. Berbagai hasil karya UMKM Dumaring sukses mencuri perhatian, mulai dari kerajinan limbah kayu ulin, batik tenun khas, gula aren dalam berbagai bentuk, hingga madu kelulut.

Momen penilaian di tingkat provinsi beberapa waktu lalu dimanfaatkan secara maksimal. Bupati Berau, Sri Juniarsih, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, secara aktif memperkenalkan berbagai produk unggulan itu kepada tim penilai dan perwakilan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Langkah ini menunjukkan sebuah strategi cerdas. Bagi Kampung Dumaring, partisipasi dalam lomba bukan hanya untuk meraih juara, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk membangun jejaring pasar dan memperkuat eksistensi UMKM lokal di tingkat provinsi maupun nasional.

Produk yang dipamerkan pun bukan produk sembarangan. Kerajinan limbah kayu ulin mereka nyatanya telah menembus pasar internasional seperti Malaysia, Ceko, dan Inggris. Sementara itu, gula aren sudah rutin memasok 300 kg per bulan ke ritel modern seperti Indomaret dan industri kue di Kutai Kartanegara.

Keberhasilan ini tidak lepas dari model bisnis kolaboratif yang mereka jalankan. Melalui Program Kolaborasi Konservasi Hutan Dumaring, UMKM lokal dibina oleh berbagai pihak, termasuk perusahaan seperti PT Gagas Dinamiga Aksenta, KLK, dan EHP Group, serta dukungan pemerintah melalui KPHP Berau Pantai.

Dengan demikian, partisipasi Kampung Dumaring dalam Lomba Desa Nasional menjadi contoh bagaimana sebuah ajang kompetisi dapat dielevasi menjadi platform promosi ekonomi yang efektif, membawa produk dari pelosok kampung ke panggung yang lebih besar.(Adv/aya)