BERAU TERKINI – Fenomena penyimpangan seksual bukan lagi sekadar isu, tetapi telah menjadi ancaman serius di Kabupaten Berau.
Alarm keras bagi pemerintah daerah berbunyi setelah terungkapnya kasus oknum eks duta budaya asal Kecamatan Tabalar yang melakukan kekerasan seksual menyimpang terhadap puluhan anak laki-laki di bawah umur.
Lantas, bagaimana penanganannya? Apakah pelaku penyimpangan ini bisa dipulihkan?
Psikolog Klinik Everwill dan Klinik Tirta Pemuda, Eka Misniar Dika, menjelaskan, selama bertugas di Berau, ia telah menangani beberapa kasus penyimpangan. Terungkapnya perilaku ini sebagian besar berkat kepekaan dan peran aktif orang tua dalam memantau perbuatan anak.
Eka menekankan, perilaku penyimpangan seksual bukanlah penyakit, melainkan gangguan identitas gender. Kabar baiknya, perilaku menyimpang masih bisa dipulihkan dengan beberapa metode terapi dan ini sangat bergantung pada usia.
Pada usia anak-anak atau remaja, perilaku menyimpang masih sangat bisa disembuhkan. Pemulihan dapat dilakukan dengan mengubah sudut pandang atau cara berpikir melalui terapi psikologis dan konseling keluarga serta orang-orang terdekat. Eka menyebut proses ini membutuhkan beberapa kali sesi pertemuan.
Sementara itu, pemulihan pada usia dewasa cenderung cukup sulit. Kunci utama keberhasilan adalah kesadaran diri sendiri yang ingin mengubah perilaku tersebut.
“Kalo diri mereka sendiri belum mau mengubahnya, itu tidak akan bisa berubah. Sekalipun berkali-kali terapinya,” jelasnya.
Eka mencontohkan pengalamannya saat bertugas di RSJ Magelang, di mana seorang remaja yang mengalami seks menyimpang dan kecanduan pornografi hingga berhalusinasi berhasil pulih. Kasus ini membutuhkan 6 hingga 7 sesi terapi, ditambah obat dari psikiater untuk mengurangi halusinasi.
Ia menegaskan, jika tidak ada halusinasi, terapi psikologis saja sudah cukup.
“Kini anaknya sudah kembali bersekolah dan melakukan hidup normal. Tetapi, butuh bantuan dari keluarga terdekat dan teman sekolahnya yang juga ikut berpartisipasi untuk pemulihannya,” ungkap Eka.
Ia juga pernah menangani pasien dewasa anggota komunitas LGBT yang ingin berubah atas kemauan sendiri. Proses penyembuhannya bisa lebih cepat, meskipun tetap memakan waktu 3 sampai 4 bulan, namun ia mengingatkan bahwa fase penyembuhan setiap individu berbeda.
Tanda-tanda Perilaku Menyimpang
Ada beberapa cara untuk mendeteksi apakah seseorang diduga mengalami perilaku penyimpangan, yang dibagi berdasarkan usia.
Tanda-tanda pada usia ini lebih mudah dikenali dan cenderung menetap. Ini termasuk cara berpakaian yang lebih menyukai pakaian lawan jenis, adanya keinginan yang cukup kuat bahwa ia merasa gendernya lebih mengarah kebalikan jenis kelaminnya, suka memainkan peran lintas gender dan hanya mau bermain dengan teman yang berjenis kelamin yang sama.
Selain itu, remaja laki-laki cenderung menolak dan menghindari aktivitas permainan yang sifatnya maskulin, begitu pula sebaliknya untuk remaja perempuan.
Pada usia dewasa, tanda-tanda cukup sulit dikenali karena pelaku cukup pintar memanipulasi kondisi sekitar. Namun, pada titik tertentu, bisa dikenali apabila penampilannya ambigu atau membingungkan, misalnya laki-laki berpenampilan tidak seperti laki-laki, atau sebaliknya.
Ada juga yang bersikap dengan sesama jenis cenderung berlebihan dan tidak sesuai etika berteman pada umumnya.
“Walaupun ada juga yang terlihat maskulin dan alim, tetapi ia juga menyimpang. Jadi memang kalau yang usianya dewasa cukup sulit mengetahuinya. Dan ini fakta di lapangan,” terangnya.
Penyebab Penyimpangan Seksual
Eka menegaskan, penyimpangan seksual tidak menular, tetapi dapat terjadi karena berbagai faktor. Umumnya, penyebab utamanya adalah pola asuh yang salah, seperti pola asuh yang keras, seringnya pertengkaran atau kekerasan orang tua yang dilihat anak.
Faktor lain termasuk adanya ekspektasi orang tua terhadap jenis kelamin anak yang tidak terpenuhi. Rata-rata, mereka melakukan hal itu karena kurang mendapatkan kelekatan perhatian, kenyamanan, ruang aman, dan kehangatan komunikasi dari orang terdekat.
Trauma juga berperan, seperti pengalaman traumatis kekerasan seksual di masa sebelumnya, putus cinta, hingga paparan video pornografi yang sangat berlebihan.
Eka juga mengingatkan, penyimpangan seksual rentan menyebabkan infeksi menular seksual.
Darurat Seks Bebas
Selain penyimpangan, Eka juga menyoroti maraknya seks bebas di usia remaja di Berau, yang kini bahkan sudah dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.
Hal yang mengejutkan, Eka menemukan kasus anak yang duduk di kelas 5 Sekolah Dasar sudah melakukan hubungan badan.
“Sudah marak seks bebas di Berau. Dari kelas 5 SD, SMP, sampai SMA. Rata-rata mereka melakukan itu karena pacaran. Orang tua harus lebih peka kepada perubahan sikap anaknya,” paparnya.
Dengan adanya fenomena ini, Eka berpesan kepada pemerintah daerah dan OPD terkait untuk memberikan edukasi seksualitas sejak usia anak hingga remaja. Hal ini penting untuk mencegah perilaku menyimpang maupun seks bebas di kalangan remaja.
Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan adalah mengadakan program skrining kesehatan jiwa oleh ahli jiwa untuk usia anak hingga remaja di sekolah.
“Agar kondisi mental mereka lebih bisa dideteksi lebih awal dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Pengakuan LGBT
Di tengah maraknya obrolan mengenai LGBT, sebagian orang memilih untuk bersikap lebih terbuka dalam memandang fenomena tersebut.
Salah satunya pria berinisial I yang mengaku memiliki ketertarikan pada laki-laki maupun perempuan, namun tetap menyadari bahwa pandangan masyarakat soal LGBT masih penuh stigma.
I mengatakan orientasinya muncul bukan karena ingin berbeda, tetapi muncul secara alami berdasarkan kenyamanan dalam menjalin kedekatan dengan seseorang.
“Aku termasuk yang biseksual. Bisa suka cewek atau cowok, tergantung bagaimana mereka memperlakukan aku. Kalau aku nyaman, ya aku bisa baper, entah itu cewek atau cowok,” ungkapnya.
Meski begitu, I mengakui, dirinya memahami pandangan masyarakat yang menganggap LGBT sebagai sesuatu yang menyimpang. Namun, ia menegaskan, perasaan bukanlah hal yang bisa dikendalikan semudah itu.
“Aku tahu itu dianggap membelok, tapi perasaan itu nggak bisa dikontrol. Mau gimana lagi?” katanya.
Terkait anggapan negatif dari lingkungan sekitar, I memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia menilai setiap pilihan hidup tentu memiliki konsekuensi, termasuk pandangan orang terhadap dirinya.
“Kalau orang anggap negatif, ya sudah. Dari awal aku sudah tahu itu perbuatan yang nggak seharusnya, jadi itu konsekuensi. Tinggal kita saja yang mau peduli omongan orang atau tidak,” ujarnya.
I mengaku tidak pernah merasa sedih atau tertekan dengan penilaian orang lain. Baginya, komentar negatif tidak memiliki dampak berarti dalam kehidupannya.
“Sedih ngapain? B aja kok. Aku nggak pernah peduliin kata orang, soalnya nggak pernah ngaruh di hidupku. Lagian aku juga nggak ganggu mereka,” tutupnya. (HENDRA IRAWAN/DINI DIVA APRILIA)
