BERAU TERKINI – Di antara deretan komoditas perkebunan di Kabupaten Berau, ada satu yang jumlahnya sedikit, namun membuat banyak orang rela antre bahkan berebut, yaitu kopi terutama jenis liberika.
“Kopi ini harum, ada rasa asam yang unik. Bagi penikmat kopi, rasanya istimewa,” kata Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, Selasa (12/8/2025).
Sayangnya, luas lahan kopi di Berau masih sangat terbatas, hanya 4,3 hektare secara keseluruhan. Dampaknya, produksi pun sedikit dan cepat habis di pasaran.
“Yang pesan duluan dapat, yang telat ya enggak kebagian,” ucapnya sambil tersenyum.
Pada 2024, Dinas Perkebunan Berau menyalurkan 5.840 bibit kopi untuk lahan seluas 5 hektare di Kampung Pesayan.
Sedangkan di Samburakat, kopi tumbuh di lahan milik perusahaan yang sementara diizinkan untuk diolah petani. Namun, karena status lahannya tidak jelas, pemerintah tak bisa memberi bantuan resmi.
“2025 ada bantuan bibit kopi untuk Sukan Tengah sebanyak 4.000 bibit,” tuturnya.
Meski kopi bukan komoditas unggulan, permintaan pasar yang terus naik membuatnya masuk daftar tanaman yang patut dikembangkan.
Tahun ini, Dinas Perkebunan Berau menanam 500 bibit robusta di UPTD Tumbit. Lokasi tersebut direncanakan menjadi kebun bibit sekaligus tempat pengolahan, sehingga pasokan kopi dan bibit perkebunan di masa depan lebih terjamin.
Bagi Lita, kopi adalah peluang tambahan pendapatan yang tidak harus berskala besar.
“Seperempat hektare saja, 200 pohon di sekitar rumah, itu sudah bisa jadi uang belanja harian. Tanam sekali, panen bisa sampai 20 tahun,” jelasnya.
Namun, kopi punya tantangan tersendiri. Panennya tidak bisa sekaligus dan harus memilih buah yang merah satu per satu.
“Banyak yang malas panen, akhirnya buah rontok, tanaman mati. Padahal kalau dirawat, sekarang pasti banyak yang berebut,” ujarnya.
Di tengah tren ngopi yang merambah anak muda, Lita optimistis peluang ini tidak akan surut.
“Selama ada kafe, akan ada kopi. Jadi ini bisa jadi tabungan jangka panjang untuk petani,” katanya.
Bagi yang ingin menanam dan mendapatkan bantuan, syaratnya sederhana: lahan jelas, kelompok tani resmi, dan komitmen untuk merawat. Jika semua terpenuhi, pemerintah siap membantu.
“Kami ingin suatu hari nanti, kopi khas Berau tidak lagi jadi rebutan karena produksinya cukup untuk semua,” pungkasnya. (*)
