BERAU TERKINI – Senyap lantai hutan basah di Sungai Lesan pecah oleh satu kabar yang menggugah.
Kamera jebak yang dipasang tim Conservation Action Network (CAN) merekam keberadaan Burung Kuau Kalimantan, satwa pemalu yang selama bertahun-tahun nyaris lenyap dari perbincangan konservasi di pulau ini.
Rekaman itu menyajikan tarian indah di tengah rimbunnya vegetasi. Gerakan lenggok perlahan, sayap terbuka, ekor terangkat, seolah panggung hutan menjadi arena upacara kuno yang nyaris terlupakan.
Nama Burung Kuau belakangan ini jarang terdengar. Di banyak kampung, anak-anak tak lagi mengenalnya. Bagi para peneliti, temuan ini adalah sinyal bahwa masih ada secuil hutan yang bertahan dari tekanan zaman.
“Di Hutan Lindung Sungai Lesan, kita menemukan banyak sekali satwa. Yang paling menarik adalah Burung Kuau. Sebab, sudah cukup jarang ditemukan di Kalimantan. Dalam kamera jebak yang kami pasang, ada banyak sekali yang tertangkap kamera,” ujar Principal CAN, Paulinus Kristanto.
Kuau lebih banyak beraktivitas di lantai hutan, bukan di pucuk pohon.
Sebelum menari, jantan membersihkan area secara cermat. Daun disingkirkan, ranting disapu, dan tanah diratakan.
Tarian ini adalah pameran keindahan bagi seekor betina, sekaligus pernyataan teritorial.
Di sinilah karakter ekologinya menjelma. Kuau hanya bertahan di hutan yang benar-benar aman, rapat, dan jauh dari aktivitas manusia.
Suara mesin, langkah pekerja, atau ketukan peralatan mudah membuatnya hilang.
“Temuan ini penting karena salah satu indikator sebuah kawasan itu betul-betul aman. Orangutan bahkan tetap aman di area berkonflik. Sementara, Kuau harus hidup betul-betul jauh dari aktivitas manusia. Ia tidak terbiasa dengan kebisingan. Ini mengindikasikan kondisi ekosistem hutannya bagus,” ungkap Paulinus.
Di Hutan Lindung Sungai Lesan, CAN menjalankan program patroli dan pengawasan hutan berbasis masyarakat. Para penjaga hutan atau biasa disebut forest guardian, direkrut dari kampung-kampung di sekitar kawasan.
Mereka menelusuri alur sungai, memantau jejak satwa, dan memasang kamera jebak untuk memetakan sebaran. Program ini bekerja senyap, tapi keberhasilannya tampak dari potret-potret kehidupan liar yang kembali muncul.
“Kami ingin memastikan dan memonitor keanekaragaman hayati. Targetnya adalah menemukan masalah, mengantisipasi masalah, dan mengatasi masalah. Selain itu, memonitor ekosistem dengan tracking dan kamera trap,” kata Paulinus.

Inspirasi Suku Dayak
Hubungan Burung Kuau dengan budaya Suku Dayak terpatri dalam gerak tari tradisional yang meniru lenggok, kibasan ekor, dan bukaan sayap sang jantan saat menggelar “panggung” kawin di lantai hutan.
Dalam pertunjukan adat Dayak, dekorasi dan atribut tarian sering dihiasi bulu Kuau yang memiliki pola unik dan dianggap mengandung nilai magis, pelindung, dan pembawa harmoni.
Namun, masyarakat adat meyakini, burung ini tidak boleh diburu. Bulu terbaik justru didapat ketika Kuau menari, melalui proses alami, beberapa helai akan rontok dan dibiarkan jatuh di lantai hutan.
Para pencari hanya menjelajah, memungut bulu yang ditemukan, sebuah filosofi yang menegaskan keindahan dan simbol budaya bisa lahir tanpa melukai sang penari hutan.
Hubungan Kuau dengan budaya Dayak terjalin jauh sebelum dunia mengenal istilah konservasi. Di masa lalu, bulu yang jatuh saat ritual tarian kawin dianggap anugerah.
Masyarakat tidak memburu Kuau karena bulu terbaik justru ditemukan di lantai hutan. Sebuah simbol bahwa alam memberi ketika keseimbangan dijaga.
“Burung Kuau melambangkan keindahan dan harmoni. Banyak hiasan dari bulu Kuau dipakai pembesar Dayak. Ada yang digunakan saat menikah, ada pula pada tameng. Secara adat, Kuau terlindungi,” jelas Paulinus.
Namun di banyak tempat, suara Kuau hilang bersamaan dengan tutupan hutan dataran rendah. Di kawasan yang terfragmentasi, seperti perkebunan, penebangan, tambang, Kuau menghilang begitu saja.
Status internasionalnya di IUCN hanya tercatat sebagai Rentan (Vulnerable). Tetapi, para ahli lapangan menganggap seharusnya sudah berada di tingkatan Terancam Punah (Endangered).
“Sampai sekarang tidak ada yang cukup kompeten menilai kondisi populasi Kuau. Jika tidak serius, bisa jadi kita terlambat. Butuh lembaga-lembaga konservasi burung untuk melihat lebih detail. Kuau dilindungi undang-undang. Tapi apakah statusnya perlu ditingkatkan? CAN memandang sangat perlu,” tegas Paulinus.

Peran Hidrologis Hutan Lindung Sungai Lesan
Konsekuensi hilangnya Kuau tidak hanya menyentuh ekologi, tapi juga kebudayaan. Gerak tarian adat yang menyerupai ritme Kuau terancam kehilangan acuan. Pakaian adat yang meminjam estetika bulunya akan kehilangan makna. Nilai simbolik akan terputus.
“Punahnya Burung Kuau akan berdampak pada budaya. Bagaimana tarian yang merepresentasikan keindahan hutan itu? Ketika Kuau hilang, apa yang bisa dipelajari? Akan ada kekosongan nilai budaya,” ujar Paulinus lirih.
Di balik narasi itu, Sungai Lesan memegang peran hidrologis penting. Kawasan ini berada di hulu Sungai Kelay, menjadi filter alami bagi air yang dikonsumsi di hilir.
Di bagian bawah, hutan telah berganti fungsi, yakni perkebunan, tambang, pembukaan lahan ilegal. Lantai hutan yang tersisa di Hutan Lindung Sungai Lesan menjadi benteng terakhir bagi satwa terusir.
“Hutan lindung ini mencegah banjir, erosi, memastikan kualitas air. Ketika satwa liar kehilangan habitatnya, mereka berpindah sendiri ke hutan lindung ini. Forest guardian memastikan ekosistem tetap sehat seperti sekarang,” jelas Paulinus.
Namun, ancaman masih mengintai berupa penebangan liar, perburuan, hingga pembukaan lahan. Di beberapa desa, suara Kuau sudah tak terdengar lagi, entah ke mana ia pergi.
Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, yang dikelola CAN, suara Kuau dulu sering terdengar setiap hari. Kini sunyi.
Tapi, rekaman kamera jebak itu memberi harapan. Sekilas gerakan sayap di layar sudah cukup untuk menyulut optimisme.
Bagi masyarakat Dayak, Kuau bukan sekadar burung. Dia adalah penjaga keindahan hutan, simbol harmoni yang rapuh.
Malam semakin turun di Sungai Lesan. Para penjaga hutan pulang dengan senyum sambil membawa kamera jebak yang merekam satwa paling identik dengan Suku Dayak ini.
Di lantai hutan, dedaunan digeser perlahan oleh seekor burung yang sedang membersihkan panggungnya. Di antara kabut tipis, ia membuka bulu, seolah membuktikan bahwa hutan ini masih bernapas. (*)
