BERAU TERKINI – Peningkatan literasi digital sangat penting demi melindungi anak.
Orang tua memiliki tugas penting dalam melindungi anak. Salah satunya melindungi anak di dunia maya atau digital.
Karena itu peningkatan literasi digital sangat penting dalam konteks melindungi anak dari bahaya dunia digital.
Hal tersebut terungkap dalam Seminar Peran Orang Tua dalam Literasi Digital Anak yang dilaksanakan di Berau, Kamis (28/11/2025).
Profesor Riset BRIN, Hanif Fakhurroja, mengatakan bahwa literasi digital ini bagaimana kita memanfaatkan media digital, komunikasi, dan internet untuk mengevaluasi, membuat, dan memanfaatkan media sosial dengan cerdas serta tepat.
“Mengapa literasi digital penting? Karena dunia bergerak cepat. Kemudian kita harus melindungi diri dari penipuan aneh, perundungan cyber, kemudian meningkatkan peluang, mendukung partisipasi aktif dan mengasah kreativitas. Media sosial bagus jika untuk mencari hal-hal yang bermanfaat,” jelasnya, Kamis (27/11/2025).
Tantangannya dalam dunia digital adalah banyaknya kabar palsu yang tersebar yang bisa membuat banyak orang percaya begitu saja.
Untuk mengatasi kabar tersebut, Hanif Fakhurroja, mengatakan bahwa hal itu bisa diatasi dengan mengecek di Komdigi.
“Bisa di cek di salah satunya adalah Komdigi. Komdigi berita hoax, nanti mana hoax mana yang enggak. Ada juga di cek fakta.com,” katanya.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, juga memberikan materi tentang tema kegiatan tersebut.
Ia mengatakan jangan sampai konten yang ada membuat kita menjadi penyebar berita atau korban berita tidak benar.
“Kemudian jangan anak-anak kita terpapar konten pornografi atau bahkan penipuan online,” katanya.
Menurutnya, manfaat penting literasi digital untuk perempuan adalah bagaimana kemampuan literasi digital dapat memberikan dampak untuk memberdayakan perempuan secara ekonomi, sosial, dan politik.
Dia mengatakan, literasi digital untuk perempuan dimulai dari diri sendiri, dengan stop oversharing di media sosial.
“Menciptakan konten positif dengan menyebarkan konten informatif, mengenalkan buku dan literasi sejak dini kepada anak menjadi salah satu contoh memanfaatkan literasi digital,” jelasnya.

Sementara itu, Konselor Keluarga dan Praktisi Parenting, Nur Hidayah menjelaskan, orang tua memiliki tantangan sendiri dalam menghadapi anak-anak yang sudah terpapar dunia digital.
Menurutnya, anak hidup di dua dunia, nyata dan digital, perubahan cepat pada perilaku dan emosi, ortu kewalahan antara membatasi dan memahami merupakan tantangan yang dihadapi orang tua.
“Apa yang dialami anak saat bermain dunia digital? Distraksi yang sangat tinggi, pelarian dari emosi. Yang orang tua lihat anak kecanduan gadget, tetapi apa yang ia dapatkan ialah pelarian emosi, ketenangan, kenyamanan yang membuat mereka candu, bukan dari gadget,” jelasnya.
Scroll san swipe sangat mempengaruhi fokus dan mood, sehingga anak di bawah dua tahun tidak disarankan memakai scren time apapun itu jenisnya.
“Karena bisa mengganggu fokus, berpotensi pada gangguan bicara atau speech delay,” ungkapnya.
Orang tua perlu memastikan anak terlindungi dari risiko digital. Anak bukan hanya perlu dibatasi tapi dibimbing. Keterlibatan orang tua merupakan inti parenting digital modern.
“Untuk anak, sampaikan dulu apa yang ingin dilihat di hp, itu untuk membangun mindful ketika berada di dunia digital,” ucapnya.
