BERAU TERKINI Sebuah video memilukan sempat menggemparkan jagat maya pada pekan lalu. Rekaman tersebut memperlihatkan seekor orangutan yang kelaparan tengah mengais sisa makanan di tumpukan sampah pinggir jalan.

Raja hutan belantara Kalimantan yang seharusnya bergelayut bebas di pepohonan itu tampak tak berdaya mencari suapan di jalur poros Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur. Pemandangan miris ini terjadi di kawasan yang kini kian terhimpit oleh aktivitas industri yang masif.

Kondisi viral ini segera memantik respons cepat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Tidak ingin satwa dilindungi tersebut berlama-lama dalam bahaya, tim penyelamat gabungan segera diterjunkan ke titik lokasi kejadian.

Respons Cepat Tim Gabungan

Operasi penyelamatan ini melibatkan kolaborasi erat antara BKSDA Kaltim dengan mitra konservasi, yakni Conservation Action Network (CAN) dan Center for Orangutan Protection (COP). Upaya pencarian membuahkan hasil manis pada Rabu (27/1/2026) lalu.

Tim berhasil menemukan orangutan tersebut tak jauh dari lokasi pembuangan sampah liar tempat videonya direkam. Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, menjelaskan pihaknya langsung bergerak menelusuri jejak digital begitu video tersebut beredar luas.

“Tim WRU ke lokasi dan dipastikan bahwa lokasi aktivitas orangutan itu berada di Kabupaten Kutai Timur,” ujar Ari dalam keterangan resminya pada Berauterkini.co.id, Jumat (6/2/2026).

Setelah berhasil diamankan, tim medis yang terdiri dari tiga dokter hewan segera melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh di lokasi. Orangutan jantan yang kemudian diberi nama Sam ini diketahui memiliki fisik yang prima untuk kembali ke alam liar.

“Umur kurang lebih 18 sampai dengan 20 tahun,” terang Ari singkat.

Habitat Terkepung Tambang

Penemuan Sam di tumpukan sampah sebenarnya menyingkap fakta pahit mengenai kondisi habitat yang kian kritis di wilayah Bengalon. Founder dan Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristanto, menyoroti lingkungan sekitar penemuan yang sudah tidak layak bagi satwa liar.

“Kiri dan kanan lokasi itu memang ternyata sudah habis hutannya,” ungkap Paulinus.

Hutan yang terfragmentasi membuat ruang gerak orangutan semakin sempit. Aktivitas industri ekstraktif di sekitar jalur perdau diduga kuat menjadi pendorong utama mengapa satwa ini terpaksa keluar mencari makan ke jalanan.

“Itu memang sudah mungkin jarak sekitar 50-100 meter itu udah tambang semua,” tambah Paulinus.

Selain hilangnya tutupan lahan, keberadaan sampah makanan yang dibuang sembarangan oleh pelintas jalan menjadi jebakan tersendiri bagi satwa. Aroma sisa makanan manusia memancing mereka keluar dari sisa-sisa hutan yang ada.

“Dia udah mengenali dengan bau ini dan dia tahu rasanya gitu,” jelas Paulinus.

Kembali ke Rimba

Meskipun ditemukan di area manusia, Sam dinilai masih memiliki insting liar yang kuat. Ari Wibawanto menegaskan bahwa keputusan untuk segera melepaskan “Sam” adalah langkah terbaik untuk mencegah ketergantungan pada manusia.

“Sifat liarnya masih ada, kondisinya sehat,” tegas Ari.

Tanpa menunggu lama, proses translokasi atau pemindahan segera dilakukan hari itu juga. Sam dibawa menuju rumah barunya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur.

Lokasi ini dipilih karena dinilai jauh lebih aman dan memiliki daya dukung pakan alami yang cukup. Harapannya, Sam bisa hidup tenang, jauh dari ancaman kendaraan dan aktivitas tambang yang sebelumnya mengepungnya. (*)